Siklus reproduksi sapi diawali dengan datangnya masa pubertas. Awal dari semua siklus reproduksi adalah dihasilkannya Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) oleh Hypothalamus. Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) memacu Follice Stimulating Hormone (FSH) pada fase folikuler untuk proses folikulogenesis pada folikel ovarium. Tahapan folikulogenesis adalah dari folikel primer, sekunder, tertier, dan De graaf. Komposisi Folikel De graaf adalah sel telur dan antrum folikuler yang berisi hormon estrogen. Pada konsentrasi puncak, estrogen akan menstimulasi Hypothalamus agar GnRH menstimulir Luteinizing Hormone (LH) pada fase luteal untuk pelepasan sel telur (ovulasi) yaitu 10-11 jam setelah waktu birahi berakhir. Ketika ovulasi telah terjadi maka Luteinizing Hormone (LH) akan memacu ovarium membentuk corpus luteum (CL) sebagai penghasil progesteron. Hormon progesteron berfungsi mempertahankan kebuntingan, sehingga progesteron memberikan negatif feedback kepada Hypothalamus dan Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) sehingga fase ini disebut fase diestrus atau juga fase pregnant. Sapi memiliki siklus birahi 21-22 hari, dengan lama estrus 18–19 jam dan ovulasi terjadi 10–11 jam setelah estrus berahir (Hafez, E.S.E. 2000).

Nutrisi dibutuhkan sapi untuk mencukupi kebutuhan hidup, pertumbuhan, produksi (daging, susu), dan reproduksi (persiapan perkawinan, kebuntingan, penyusuan pedet). Pakan sapi terdiri dari hijauan sebagai sumber serat dan pakan penguat yang tersusun dari bahan biji-bijian (dedak, kedelai, jagung, kopra, brand, pollard, sawit, gaplek, onggok, dan bahan lain yang tersedia). Komponen terpenting dalam pakan adalah bahan kering yang terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik meliputi sumber nitrogen (protein dan non protein), lemak (sederhana dan kompleks), Karbohidrat (dinding sel dan bukan dinding sel), Phenol (lignin, tranin), dan vitamin (larut air dan larut lemak). Bahan anorganik disebut sebagai mineral, yaitu esensial (makro dan mikro) serta non esensial (NRC, 1978).

Sapi dara membutuhkan nutrisi yang bisa mencukupi untuk pertumbuhan mencapai body maturity dan sexual maturity dengan asupan protein, energi, vitamin dan mineral yang lebih tinggi. Asupan nutrisi sangat berpengaruh terhadap umur pubertas sapi Brahman-Cross, sapi-sapi dengan nutrisi rendah umur pubertas 704,2 hari, nutrisi sedang umur pubertas 690,8 hari dan nutrisi bagus umur pubertas adalah 570,4 hari. Umur pubertas dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Asupan nutrisi dan lamanya induk menyusui dapat menyebabkan terjadinya anestrus postpartum pada sapi Brahman-Cross, tertundanya pengeluaran plasenta setelah beranak dan adanya infeksi serta peradangan pada selaput lendir uterus (endometritis) yang dapat memperpanjang jarak beranak. Masalah besar yang sering timbul pada peternakan sapi Brahman-Cross di daerah tropis dan sub tropis adalah panjangnya masa anestrus postpartum (anestrus pasca beranak), hal ini disebabkan oleh ketidak-seimbangan pakan yang diberikan antara input energi dengan output tenaga yang dikeluarkan (negatif energy ballance), temperatur lingkungan yang terlalu panas, investasi parasit, penyakit reproduksi, gangguan involusi uterus, Skor Kondisi Tubuh tubuh yang kurus (SKT di bawah 2,0), dan stres akibat menyusui (Putro, P. P. 2008).

Pada sapi Brahman-Cross terkadang menunjukkan gejala birahi semu yang tidak diikuti dengan pelepasan sel telur. Pengamatan tanda-tanda birahi akan lebih berhasil pada sapi induk dan dara Brahman-Cross malam dan pagi hari karena aktivitas seksual lebih sering di malam dan pagi hari daripada waktu siang hari. Mayoritas birahi (standing heat) terjadi antara jam 4.00-6.00 sore dan 5.00-7.00 pagi. Pengamatan visualisasi pada malam hari (night watch) sangat dianjurkan untuk deteksi birahi pada sapi Brahman-Cross. Sapi betina yang terikat dalam kandang harus diberi latihan (exercise) secara teratur dengan kondisi kaki yang baik agar dapat menunjukkan aktivitas menaiki dan dinaiki temannya, serta ekspresi birahi akan lebih kelihatan. Birahi pertama secara normal terjadi 42 hari setelah beranak dan baru pada periode birahi berikutnya (± 63 hari setelah melahirkan) sapi mulai dikawinkan kembali (Putro, P. P. 2009).

Status SKT optimum 3–3,5 pada sapi bunting tua sangat diperlukan bagi persiapan kelahiran (partus) dan periode menyusui pedet. Kualitas dan kuantitas pakan yang kurang optimum menyebabkan SKT rendah saat bunting tua, berakibat gangguan pada waktu beranak seperti prolapsus uteri, retensi plasenta, distokia, produksi susu induk sedikit dan berat lahir pedet rendah. Gangguan pada waktu beranak berakibat pada waktu estrus postpartum lebih lama muncul bahkan bisa menyebabkan anestrus yang panjang sehingga setelah beranak tidak dapat birahi atau bunting lagi. Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka perlu diperhatikan kualitas pakan yang diberikan pada saat bunting sampai menyusui.

Skor kondisi tubuh (SKT) sapi Brahman-Cross berhubungan dengan performan reproduksi. Kondisi status nutrisi dan endoparasit (terutama cacing) merupakan pengaruh terbesar dalam penampilan skor kondisi tubuh sapi. Angka SKT dimulai dari angka 1 (sangat kurus), 2 (kurus), 3 (optimum), 4 (gemuk) dan 5 (sangat gemuk). Angka SKT dengan nilai 3 adalah rata-rata, sedang atau optimum (diantara kurus dan gemuk). Nilai SKT optimum untuk keperluan reproduksi sapi Brahman-Cross adalah 3,0 – 3,5 (Putro, P. P. 2009).

Sapi Brahman-Cross yang didatangkan ke Indonesia dan dibagikan kepada rakyat, sapi-sapi tersebut dipasangi tali hidung, dikandangkan sendiri atau dalam kelompok kecil di tempat sempit, tanpa kesempatan exercise sama sekali, dengan pakan yang tidak mencukupi kualitas maupun kuantitasnya, terjadilah berbagai gangguan lambannya reproduksi atau sering disebut sebagai slow breeder. Dengan adanya perubahan lingkungan, pakan, ditambah adanya heat stress terjadilah keadaan yang disebut sebagai depresi reproduksi (reproductive depression) yang meliputi:

1. Birahi tenang (silent heat, sub-estrus)

Birahi tenang atau birahi tidak teramati banyak dilaporkan pada sapi Brahman-Cross; sapi dengan birahi tenang mempunyai siklus reproduksi and ovulasi normal, namun gejala birahinya tidak terlihat. Birahi tenang akan mengakibatkan peternak tidak dapat mengetahui kapan sapinya birahi, sehingga tidak dapat dikawinkan dengan tepat. Sifat birahi sapi Brahman-Cross yang cenderung tenang ini timbul diakibatkan oleh faktor genetis, manajemen peternakan tradisional, defisiensi komponen-komponen pakan atau defisiensi nutrisi, perkandangan tradisional, sempit, kurang gerak, kandang individual, kondisi fisik jelek, kebanyakan karena parasit interna (cacing), atau dalam proses adaptasi.

2. Tidak birahi sama sekali (anestrus)

 Sapi tidak menunjukkan gejala birahi sama sekali (anestrus) pada sapi yang belum bunting maupun setelah beranak (anestrus postpartum). Anestrus adalah keadaan dimana memang tidak terjadi siklus reproduksi, tidak ada ovulasi, sehingga tidak terjadi gejala birahi sama sekali. Kasus anestrus pada sapi Brahman-Cross cukup banyak ditemui, umumnya terjadi setelah beranak. Anestrus pada sapi Brahman-Cross umumnya berupa hipofungsi ovaria (90%) akibat defisiensi nutrisi and korpus luteum persisten (10%) akibat adanya peradangan saluran reproduksi. Fenomena lain sapi Brahman-Cross menunjukkan infertilitas metabolik dan nutrisi disertai dengan penurunan skor kondisi tubuh (Putro, P. P. 2008).

2. Hipofungsi ovaria

 Hipofungsi ovaria adalah kurang atau tidak berfungsinya ovaria dalam menghasilkan ovum secara rutin, karena tidak terbentuk folikel dan tidak ada ovulasi, sehingga juga tidak timbul gejala birahi. Kurang atau tidak berfungsinya ovaria ini memang bersifat temporer, namun kalau keadaannya melanjut maka ovaria akan tidak berfungsi secara permanen, karena stroma jaringan ovaria akan diganti dengan jaringan ikat, keadaan ini disebut atrofi ovaria. Pada ovaria yang mengalami hipofungsi maka akan teraba kecil, diameter sekitar 1,5 cm, pipih, permukaan licin halus dan uterusnya teraba lembek, tidak bertonus. Bila sudah melanjut menjadi atrofi ovaria, maka ovaria akan teraba semakin kecil lagi, diameternya sekitar 0,5 cm dan rabaannya menjadi keras karena stroma ovarium digantikan oleh jaringan ikat. Sapi penderita akan segera mengalami peningkatan berat badan dengan cepat, karena tidak aktifnya lagi ovaria akan menyebabkan seperti hewan diovariektomi.

Sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus 80% disebabkan oleh hipofungsi ovaria ini, termasuk juga atrofi ovaria. Penyebab utama dari hipofungsi ovaria karena adanya defisiensi gonadotropin-releasing hormone, akibat dari berbagai faktor antara lain :

  1. Defisiensi nutrisi, pakan yang tidak memadai, termasuk energi, protein, vitamin dan mineral,
  2. Menyusui pedet,
  3. Penyakit yang menyebabkan kekurusan
  4. Parasit cacing, terutama sapi

 

Brahman-Cross lebih peka terhadap cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis). Sapi Brahman-Cross betina yang diimport dari Australia sebagian besar adalah final stock yaitu sapi yang telah dari awalnya disterilkan alat reproduksinya dan disediakan untuk penggemukan (Feedlot). Sapi betina tersebut sudah infertil atau sebagian besar steril dikenal dengan istilah heifer, dengan tanda yang harus dikenali adalah adanya lubang (spayed) pada daun telinga berbentuk bulat (circle), ada implant compoduse di subcutan telinga, ataupun implant bentuk lain untuk memacu pertumbuhan. Sapi betina tersebut infertil atau steril karena apabila dilakukanATR (sterility control) maka ditemukan bentukan cervix abnormal (membesar, mengeras, atau tumor), uterus abnormal (tidak berkembang, tidak bertonus), ovarium abnormal (atropi, hipofungsi, cystik, atau CLP).

Pada umumnya ada sekitar < 5% dari total betina yang diimport atau adalah bunting dari Australia karena pernah mengalami perkawinan dengan pejantan di padang penggembalaan, akan tetapi setelah perlakuan menjadi final stock maka sering terjadi abortus atau setelah melahirkan sapi tersebut akan infertil atau steril. Biasanya sapi yang bunting dari Australia tersebut dengan predikat final stock ini akan dipelihara beberapa waktu di kandang-kandang penggemukan sebagai stock sapi breeding. Sebagian sapi tersebut dijual untuk proyek pemerintah dalam rangka mencapai Program Swasembada Daging Sapi 2010/ Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau (P2SDS) 2014 yang dibagikan ke setiap kabupaten yang ditunjuk, atau juga melalui proyek Sarjana Membangun Desa, LM3, dan program sejenisnya. Sehingga Biasanya sapi bunting dari Ausrtalia tersebut yang dibagikan ke peternak akan menimbulkan masalah baru yaitu gangguan kebuntingan, kematian pedet, stress, atau tidak bisa bunting lagi setelah beranak pertama.

Peternakan sapi Brahman-Cross di kecamatan bukit kapur berlokasi di sekitar lahan sawit dengan kandang kelompok. Kejadian hipofungsi ovaria pada sapi Brahman-Cross di kecamatan Bukit Kapur, Kota Dumai, Riau ditandai mundurnya masa pubertas pada sapi dara, days open semakin panjang, dan calving interval>12 bulan akan menyebabkan kerugian yang besar pada peternak. Kejadian pada peternak tradisional bahwa sapi Brahman-Cross semakin menurun fertilitasnya atau kemampuan bunting kembali setelah melahirkan disebabkan karena manajemen pakan, sitem perkandangan dan ketelitian pengamatan birahi.

Pemeliharaan sapi Brahman-Cross sebaiknya dikelola dengan manajemen peternakan lepas pada kandang koloni skala 10 – 50 ekor dengan kepadatan 3m2 per ekor sapi. Struktur kandang dilengkapi tempat pakan dan tempat minum yang cukup, sapi mempunyai kesempatan exercise, ekspresi birahi, mendapatkan vitamin D dari sinar matahari untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang, tanpa tali hidung. Perkawinan dilakukan dengan menggunakan secara alami dengan pejantan atau inseminasi buatan dengan persyaratan kandang dilengkapi kandang jepit yang kuat. Pembersihan kotoran kandang harus rutin dilkakukan untuk menjaga sapi dari penyakit parasiter dan konstruksi atap dibuat lebih tinggi agar aerasi atau pertukaran udara berjalan lancar. Pakan hijauan maupun pakan penguat (konsentrat) harus tersedia cukup secara kuantitatif maupun kualitatif. Pakan sapi untuk breeding secara umum adalah 10% berat badan adalah hijauan ditambah 1% konsentrat (2 – 2,5% asupan bahan kering pakan). Sebagai contoh sapi dengan berat 350 kg membutuhkan hijauan 35 kg dan 3,5 kg konsentrat dengan energi cukup Total Digestible Nutrient 65 – 70%, protein kasar 12-13%, Serat kasar 15 – 20%, yang dilengkapi dengan Ca, P, vitamin A, Vitamin D, Vitamin E (Alpha tocopherol), dan selenium. Untuk tujuan efisiensi dan efektifitas, maka sapi dara dan dara bunting (springing heifer) harus diberi nutrisi cukup untuk fase pertumbuhan, persiapan reproduksi, kebuntingan, kelahiran, persiapan menyusui pedet untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5) kebuntingan berikutnya.

Pada musim kemarau kejadian hipofungsi ovaria akan meningkat karena ketersedian pakan hijauan akan berkurang. Antisipasi yang harus dilakukan adalah menanam sumber hijauan lain seperti king grass atau tebon jagung pada saat musim hujan. Ketika musim panen tiba, hijauan melimpah maka dilakukan fermentasi hijauan yang jumlahnya berlebih untuk persediaan pakan pada musim kemarau. Fermentasi jerami padi juga bisa menjadi solusi alternatif pakan, karena fermentasi akan meningkatkan Nitrogen Non Protein serta meningkatkan kecernaan nutrisi dalam rumen. Perlu seringnya dilakukan pembinaan kepada peternak tentang pentingnya ketercukupan nutrisi secara kualitatif dan kuantitatif, serta adanya semangat untuk memelihara sapi, merawat dan mencarikan pakan.

Program kesehatan ternak harus diseragamkan bersama kesehatan reproduksi. Pemberian obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang(Paramphistomiasis), diberikan pada dara siap kawin, sebelum bunting, dan setelah melahirkan. Identifikasi permasalahan reproduksi individual atau kelompok sapi Brahman-Cross pada sapi yang tidak bunting yang mengalami permasalahan seperti birahi tenang, anestrus atau infertilitas bentuk lain dengan pemeriksaan ATR.

Penanganan dilakukan terhadap sapi  Brahman-Cross yang mengalami anestrus dan birahi tenang karena hipofungsi ovaria adalah sebagai berikut:

  1. Perbaikan kondisi tubuh, usahakan kondisi fisik (body condition score = BCS, skor kondisi tubuh = SKT) optimum untuk reproduksi, yaitu sekitar 3,0. Perbaikan kondisi tubuh dapat lebih cepat dibantu dengan perbaikan kualitas dan kuantitas pakan, pemberian roboransia dan obat cacing.
  2. Intensifikasi pengamatan birahi individu atau kelompok sapi. Pada kandang tipe koloni, pengamatan birahi dilakukan dengan mencatat nomor identitas sapi yang menandakan tanda birahi. Pencatatan dilakukan pada sapi yang menunjukkan tanda menaiki, atau diam bila dinaiki temannya sesuai waktu dan seringnya tanda tersebut muncul untuk menentukan kualitas birahi dan waktu yang tepat untuk inseminasi buatan. Sapi yang menunjukkan aktivitas birahi pada pukul 06.01–18.00 diinseminasi pada pukul 17.00– 18.00 WIB, sapi yang birahi pada 18.01–06.00 diinseminasi pukul 06.00. Pada sapi individu pengamatan birahi diamati sesering mungkin minimal 4 kali sehari terutama pada waktu malam hari.
  1. Aplikasi induksi birahi dan ovulasi dengan penggunaan CIDR (controlled internal drug release), implant berisi progesterone, diiserasikan intravagina dan selama 9-12 hari. Insemiansi buatan dilakukan pada 72 dan 96 jam setelah pengambilan implant. Metode lainnya adalah Ovsynch (sinkronisasi ovulasi) dengan menggunakan 250 mcg Gonadorelin (GnRH) disuntikkan intramuskuler pada hari ke 0, diikuti 15 mg Luprostiol (prostaglandin) pada hari ke 7, dan akhirnya 250 mcg Gonadorelin pada hari ke 8 ataupun kombinasi dengan gonadotropin-releasing hormone (Britt, J.S. and Gaska, J. 1998).

DAFTAR PUSTAKA

  • Britt, J.S. and Gaska, J. (1998). Comparison of two estrus synchronization programs in a large, confinement-housed beef herd. JAVMA 212:210-212
  • Hafez, E.S.E. (2000). Reproduction In Farm Animals 7th Edition. Reproductive Health Centre, Kiawah Island, South Carolina, USA.
  • NRC. (1978). Nutrient Requirement of Cattle 5th Revised Edition. National Academy Of Science. Washington DC.
  • Putro, P. P. 2006. Gangguan Reproduksi pada Sapi Brahman-Cross. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta
  • Putro, P. P. 2008. Sapi Brahman-Cross, Reproduksi dan Permasalahannya.Bagian reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.
  • Putro, P. P. 2009. Fenomena Reproduksi Sapi Brahman-Cross: Problema dan Solusinya. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.
  • Youngquist, R.S. (1997). Therigenology in Large Animals. W.B. Saunders Co., London. Pp 80-88