Perkembangan peternakan ayam ras petelur di Indonesia sangat pesat. Pesatnya perkembangan tersebut tidak hanya didorong oleh peluang pasar yang masih terbuka tetapi juga oleh kebijakan pemerintah. Ada banyak faktor lain yang dapat menentukkan keberhasilan kemajuan peternakan ayam petelur antara lain manajemen pemeliharaan, kondisi lingkungan yang mendukung, cuaca dan manajemen kesehatan. Penyakit merupakan salahsatu resiko yang seringkali harus dihadapi dalam usaha peternakan ayam, oleh karena itu pengetahuan mengenai gejala masing-masing penyakit, penyebab penyakit, pengobatan maupun pencegahan penyakit merupakan salah satu bekal yang penting bagi suksesnya usaha peternakan. Berbagai jenis penyakit sering menimbulkan gejala yang hampir serupa, sehingga untuk melakukan diagnosa diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan lebih lanjut termasuk pemeriksaan laboratorium (Retno dkk., 1998).

Kolibasilosis merupakan penyakit yang dapat menimbulkan berbagai kerugian pada peternakan ayam sehubungan dengan terjadinya kematian, gangguan pertumbuhan atau produksi, faktor pendukung timbulnya berbagai penyakit lainnya, respon yang kurang optimal terhadap vaksinasi dan peningkatan biaya pengobatan, pakan, desinfektan serta tenaga kerja. Dampak penting lainnya pada industri perunggasan akibat Kolibasilosis antara lain adanya peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan kualitas karkas dan telur, penurunan daya tetas telur dan kualitas anak ayam dan mendukung timbulnya penyakit kompleks yang sulit ditanggulangi (Calnek, 1997).

 

TINJAUAN PUSTAKA

Kolibasilosis

Kolibasilosis merupakan penyakit pada ayam yang disebabkan oleh Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC), yang menyebabkan kerugian ekonomi industri perunggasan di seluruh dunia (Mellata et al., 2003). Istilah umum lain untuk penyakit ini adalah koliseptikemia dan infeksi E. coli (Purchase,et al.,1989). Bakteri E. coli dapat menyebabkan penyakit primer pada ayam, tetapi dapat juga bersifat sekunder mengikuti penyakit lainnya, misalnya berbagai penyakit pernapasan dan pencernaan (Tabbu,2000).
Escherichia coli telah tersebar di seluruh dunia dan ditularkan bersama air minum yang terkontaminasi oleh feses. Mikroorganisme ini juga merupakan mikroorganisme indikator sebagaimana dalam analisis air, dimana kehadirannya merupakan bukti bahwa air tersebut terkontaminasi oleh bahan dari manusia atau hewan berdarah panas (Merchant dan Parker,1996). Infeksi E. coli hingga tampak secara klinis dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang jelek atau agen infeksi lainnya yang biasanya muncul menyertai (Purchase,et al.,1989), pada lingkungan yang kotor dan berdebu atau pada sekelompok ayam yang mengalami imunosupresif akibat penyakit infeksius atau yang mengalami stres akibat lingkungan. Kuman ini dapat ditemukan di dalam litter, kotoran ayam, debu/kotoran lain dalam kandang serta lingkungannya, pakan dan minuman. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung antara ayam yang sakit dengan ayam yang sensitif. Penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam yang sensitif dengan bahan-bahan yang tercemar oleh leleran tubuh atau feses ayam yang menderita Kolibasilosis (Tabbu, 2000).

Etiologi

Kolibasilosis disebabkan oleh bakteri Escherichia coli, yang secara taksonomi termasuk divisi Gratellicutes, kelas Cyanobacteria, famili Enterobactericeae, genus Eschericia dan species Eschericia coli (Jordan, et al., 2001). Escherichia coli diisolasi pertama kali pada tahun 1885 oleh Buchner dan secara lengkap diuraikan oleh Theobald Escherich pada tahun 1882 (Gyles, 1983).

E. coli termasuk bakteri gram negatif, tidak tahan asam, tercat uniform, tidak membentuk spora, berukuran 2-3 x 0,6 µ, mempunyai flagella peritrikus, bentuk koloni sirkuler, konveks, halus, memfermentasi laktosa, sukrosa dan memproduksi hemolisin. Bakteri ini dapat tumbuh pada kisaran suhu antara 10-46 0C, pertumbuhan baik pada suhu 20-40 0C dan pertumbuhan optimum pada suhu 37 0C (Howard et al,1987). Koloni yang tumbuh berbentuk bulat, halus, cembung dan berwarna merah-hitam atau berwarna hijau mengkilap atau biru kehitaman sampai coklat dengan pendar methalic sheen pada media Eosin Methylene Blue (EMB) (Quinn et al., 2002). Fermentasi laktosa dan sukrosa menyebabkan koloni pada EMB berwarna gelap, presipitasi gelap ini mungkin karena MB-eosinate yang dipresipitasi oleh koloni yang memfermentasi laktosa dan sukrosa. Larutan gelap terabsorbsi ke dalam koloni (Howard et al, 1987) Semua bakteri E. coli memfermentasi glukosa, laktosa, dan sukrosa, juga memproduksi gas tetapi tidak memproduksi H2S, memberikan hasil positif pada uji indol, motility, methyl red, dan negatif pada uji Voges Proskauer dan citrat (Barnes & Gross, 1997).

Tabel 1. Karakteristik Biokimia bakteri Enterobactericeae pada media identifikasi

Enterobactericeae

IND

MR

VP

CIT

MOT

H2S

GAS

MNT

SUC

SRT

Escherichia coli

+

+

+

+

+

v

+

Klebsiella

(-)

(-)

+

+

+

+

+

+

Enterobacter

+

+

+

+

+

+

+

Proteus

v

+

(-)

v

+

+

+

v

Salmonella

+

+

+

+

+

+

+

Sumber: Clinical and Pathogenic Microbiology (Howard, 1987);

Keterangan:
+ : Mayoritas positif (≥ 90%)
(+) : Banyak strain positif (75%-85%)
v : Variable (26%-74%) positif
(-) : Banyak strain negatif (11%-25%)
– : Mayoritas negatif (≤ 10%)
IND : Indol CIT : Citrat SUC : Sukrosa
MR : Methyl red MOT : Motility SRT : Sorbitol
VP : Voges-Proskauer MNT : Manitol H2S : Produksi H2S pada TSI

Escherichia coli memiliki antigen O tersusun dari komplek polisakarida-phospolipid dengan fraksi protein yang tahan terhadap pemanasan, sehingga antigen O dikenal sebagai antigen permukaan yang tahan panas (heat-stable). Antigen K merupakan antigen kapsul atau amplop. Antigen K terletak di atas antigen O dan mencegah antigen O kontak dengan antibodi O. tersusun dari lipopolisakarida Antigen fimbria terletak pada fimbria (pili), yang merupakan penonjolan pada dinding sel dan tersusun dari protein. Antigen H merupakan antigen flagela, protein dan tidak tahan panas (Gross,1997).

Antigen yang digunakan untuk menentukan serotipe adalah sebagai berikut: Somatik atau antigen O. Dituliskan menggunakan numeral Arabik; sebagai contoh, O33 (Carter, 2004). Antigen O merupakan bagian terluar dinding sel lipopolisakarida dan terdiri unit berulang lipopollisakarida. Beberapa polisakarida spesifik O mengandung gula unik. Antigen O tahan terhadap panas dan alcohol dan biasanya dideteksi dengan cara aglutinasi bakteri. Antibodi terhadap antigen O adalah IgM. Sedangkan tiap jenis enterobacteriaceae digabungkan dengan kelompok khusus O sehingga tiap organisme tunggal dapat membawa beberapa antigen O yang sama dengan E. coli. E. coli dapat bereaksi silang dengan beberapa spesies providencia, klebsiella, dan salmonella. Biasanya antigen O berhubungan dengan penyakit khusus pada manusia, misalnya tipe spesifik O dari E. coli ditemukan pada diare dan infeksi saluran kemih (Brooks, 1995).

Antigen K (permukaan atau amplop). Ada lebih dari 80 Antogen K yang berbeda-beda. Dituliskan menggunakan numeral Arabik; contoh, K4 (Carter, 2004). Antigen K merupakan bagian luar dari antigen O pada beberapa, tetapi tidak pada semua enterobacteriaceae. Beberapa antigen K adalah polisakarida, termasuk antigen K dari E. coli dan yang lainnya protein. Antigen K dapat berpengaruh pada reaksi aglutinasi dengan antisera O dan mereka dapat dihubungkan dengan virulensi misalnya strain E. coli memproduksi K1 yang merupakan penyebab utama pada meningitis neonatal, dan antigen K dari E. coli menyebabkan perlekatan bakteri pada sel epithelial yang memungkinkan invasi ke sistem gastrointestinal atau saluran kemih) (Brooks, 1995).

Antigen H atau flagella. Ditulis dengan H diikuti dengan numeral Arabik; contoh, H2. Apabila tidak ada flagella , dituliskan dengan NM (nonmotil) (Carter, 2004). Antigen H terletak pada flagella dan denaturasi atau dihilangkan oleh panas atau alkohol. Mereka dapat diawetkan dengan pemberian formalin pada varian bakteri yang motil. Antigen H mengadakan aglutinasi dengan antibodi H , biasanya Ig G. Penentu dalam antigen H merupakan fungsi dari rangkaian asam amino pada protein flagella (flagellin) (Brooks, 1995).
Faktor-faktor virulensi Escherichia coli

Escherichia coli memiliki struktur antigenik O, K, dan H. Struktur antigenik tersebut dapat digunakan untuk klasifikasi E. coli. Antigen O merupakan endotoksin yang menyebabkan autolisis pada otot polos. Antigen K dihubungkan dengan virulensi, Biasanya antigen K (A) tahan terhadap panas, tetapi rusak pada pemanasan 120oC selama 2 jam. Antigen K (A) tersusun dari polisakarida. Antigen K (B) rusak pada pemanasan 100oC dan tersusun dari lipopolisakarida. Antigen fimbria (F) berfungsi sebagai alat untuk adhesi, yang melindungi bakteri saat melewati brush border sel epitel pada usus halus. Antigen H jarang digunakan untuk identifikasi E. coli dan tidak ada hubungannya dengan patogenesitas (Barnes and Gross, 1997). Berbagai serotipe Escherichia coli dapat menginfeksi sebagian besar mammalia dan unggas. Khusus pada ayam dinamakan Avian Pathogenic E. coli (APEC). Escherichia coli yang menyebabkan gangguan pada ayam umumnya berasal dari bakteri E. coli dengan antigen O1, O2 dan O78, serotipe O8:K50 dan O9:K30 mampu menyebabkan kematian pada anak ayam umur 1 hari (Arne et al, 2000). Stehling et al (2003), menambahkan bahwa sebagian besar galur APEC termasuk dalam serotipe O78 dan mempunyai kemampuan untuk mengekspresi beberapa faktor virulensi diantaranya adalah adhesin yang berperan dalam perlekatan pada saluran pernafasan ayam.
Beberapa faktor virulensi yang terdapat pada Escherichia coli galur APEC diantaranya: aerobactin iron transport, FimC (fimbrae tipe I) fimbria P dan S, iucD, protein tsh, hlyE dan stx2f, protein IbeA, hemolisisn F, (Dho-Moulin, 2000; Schouleur et al., 2007; Janben et al., 2001). Aerobactin merupakan system uptake Fe yang memungkinkan Escherichia coli dapat bertahan dengan kadar Fe rendah atau terbatas (Quinn et al., 2002). Pada saat jaringan berada dalam kondisi Fe yang rendah, siderophore dieksresikan ke jaringan dan mengikat Fe dari transferring (Dho-Moulin, 2000). Siderophore (pengikat Fe) yang berhubungan dengan sistem uptake Fe pada Escherichia coli dibagi menjadi 3 tipe: enterobaktin yang mampu memindah Fe dari protein binding-Fe ke dalam sel bakteri, aerobactin yang dapat dibedakan dari enterobaktin melalui kemampuannya menghindari dari ikatan serum albumin dan non-native siderophore yang terdapat pada fungi yaitu siderophore ferrichrome dan coprogen rhodororulic acid. Escherichia coli juga dapat menggunakan sitrat untuk menghasilkan Fe (Carter dan Wise, 2004).

Polisakarida K-1 merupakan kapsul polisakarida yang tidak bersifat imunogenik, mencegah opsonisasi dan fagositosis. Protein tsh sebagian besar berhubungan dengan Escherichia coli yang diisolasi dari feses ayam yang sehat. Diantara isolat Escherichia coli dengan protein tsh positif memperlihatkan kejadian sakit pada galur patogenik lebih besar dari pada isolat Escherichia coli non patogenik (Dho-Moulin, 2000) dan berperan dalam temperatur-sensitif (Germon, et al, 2005).

Patogenesitas

Escherichia coli diklasifikasikan berdasarkan sifat karakteristik dari virulensinya dan tiap kelompok menyebabkan penyakit dengan mekanisme yang berbeda, yaitu Enterophatogenik E. coli (EPEC), Enterotoxigenik E. coli (ETEC), Enterohemorragic E. coli (EHEC), Enteroinvasive E. coli (EIEC), Enteroagregative E. coli (EAEC) (Brooks, et. al., 1995).

  1. Enterophatogenic E. coli (EPEC) Merupakan penyebab penting terjadinya diare. EPEC melekat pada sel mukosa usus halus. Hilangnya mikrovili (effacement), pembentukan filamentous actin atau struktur seperti cangkir, dan biasanya EPEC masuk ke dalam mukosa. Karakteristik lesi dapat dilihat diatas mikograf elektron dari lesi biopsi usus halus. Akibat dari infeksi EPEC adalah diare yang cair, biasanya susah diatasi namun tidak kronis. Diare EPEC berhubungan dengan berbagai serotipe spesifik dari E. coli. Strain diidentifikasi dengan antigen O dan seringkali dengan antigen H. Waktu diare EPEC dapat diperpendek dan diare kronis dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik (Brooks, et. al., 1995).
  2.  Enterotoxigenik E. Coli (ETEC) Merupakan penyebab umum diare. Beberapa strain ETEC memproduksi sebuah eksotoksin yang sifatnya labil terhadap panas atau LT (BM 80.000) dibawah kontrol plasmida. LT bersifat antigenic dan merangsang produksi penetralan antibodi dalam serum. Beberapa ikatan ETEC menghasilkan enterotoksin yang stabil terhadap panas STa (BM 1500-4000), di bawah kontrol genetika dari beragam kelompok plasmid. STa mengaktifkan guanil cyclase dalam sel epitelia enterik dan merangsang pengeluaran cairan. Sedangkan STb akan merangsang pengeluaran cyclic-independent dengan onset yang lebih pendek (Brooks, et. al., 1995).
  3. Enterohemorragic E. coli (EHEC) Memproduksi verotoksin, dan dinamakan berdasarkan efek sitotoksik pada sel vero. EHEC banyak dihubungkan dengan hemoragik kolitis, sebuah bentuk diare yang parah, dan dengan sindrom uremik hemolitik, mikroangiopathi hemolitik anemia, dn trombositopenia (Brooks, et. al., 1995).
  4. Enteroinvasive E. coli (EIEC). Strain EIEC memfermentasi laktosa dengan lambat atau tidak memfermentasi laktosa dan tidak motil. EIEC menyebabkan penyakit dengan menyerang sel epithelial mukosa usus (Brooks, et. al., 1995).
  5. Enteroagregative E. coli (EAEC). Patogenesis EAEC penyebab diare tidak begitu dipahami dengan baik, meskipun demikian dinyatakan bahwa EAEC melekat pada mukosa intestinal dan menghasilkan enterotoksin dan sitotoksin. Akibatnya adalah mukosa rusak, pengeluaran sejumlah besar mukus dan terjadinya diare (Brooks, et. al., 1995).

Cara Penularan

Kebanyakan Escherichia coli hidup di lingkungan kandang unggas melalui kontaminasi feses. Permulaan kejadian patogen dari Escherichia coli mungkin terjadi di hatchery dari infeksi atau telur yang terkontaminasi, tetapi infeksi sistemik biasanya membutuhkan lingkungan predisposisi atau sebab-sebab infeksi (Aiello, 1998).

Akoso (1998) menambahkan infeksi Kolibasilosis terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam yang basah dan kotor, dan bukan dari ayam ke ayam. Mc Mullin (2004), menyebutkan bahwa infeksi Kolibasilosis biasanya terjadi baik melalui peroral atau inhalasi, lewat membran sel/yolk/tali pusat, air, muntahan, dengan masa inkubasi 3-5 hari.

Mycoplasmosis, infectious bronchitis, newcastle disease, hemoragi enteritis, dan turkey bordetellosis seringkali menyertai Kolibasilosis. Kualitas udara yang buruk dan stres yang berasal dari lingkungan juga kemungkinan untuk predisposisi infeksi Escherichia coli (Aiello, 1998). Tabbu (2000), berpendapat bahwa faktor pendukung timbulnya Kolibasilosis meliputi sanitasi yang kurang optimal, sumber air minum yang tercemar bakteri, sistem perkandangan dan peralatan kandang yang kurang memadai dan adanya berbagai penyakit yang bersifat imunosupresi.

Gejala Klinis

Gejala yang ditimbulkan pada penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri akibat pertumbuhan dan multiplikasi. Invasi primer terjadi pada sistem pernafasan dan sistem gastrointestinal. Gejala klinis dari Kolibasilosis tidak spesifik dan berbeda-beda tergantung umur, lamanya infeksi, organ yang terlibat dan terlihat adanya septisemia akut, kematian akibat periode anoreksia dan inaktivitas (Purchase et al., 1989). Tanda-tanda ayam yang terserang Kolibasilosis adalah kurus, bulu kusam, nafsu makan turun dan murung, pertumbuhan terganggu, diare, bulunya kotor atau lengket disekitar pantatnya. (Akoso, 1998).
Berbagai sindroma dari E. coli yang terisolasi meliputi:

  1. Airsacculitis
    Air sac menebal dan pada beberapa kasus, terdapat eksudat kaseosa. Biasanya terdapat perikarditis adesif dan perihepatitis fibrinosa.
  2. Omfalitis. E. coli selalu terisolasi dalam biak murni dari tetasan burung yang mengalami depresi, septicemia, kematian tidak tetap. Tali pusar membengkak, meradang dan unggas demam.
  3. koliform septisemia pada itik. Pada koliform septisemia biasanya basah, granula hingga eksudat koagulase dari berbagai pengembungan berada di abdomen dan torak serta permukaan air sac. Lien dan hati membengkak dan hitam gelap dengan empedu mewarnai hati.
  4. 4.      akut septisemia. Akut septisemi disebabkan oleh E. coli yang menyerupai fowl typhoid dan fowl cholera. Terjadi kematian tiba-tiba, mortalitas dan morbiditas tidak tetap. Organ parenkim membengkak dengan kongesti pada muskulus pektoral. Hati berwarna hijau dan bisa terdapat foki nekrotik kecil.
  5. Enteritis. Terjadi diare. Pada nekropsi terdapat enteritis, selalu bersama dengan mukus
  6. Salpingitis. Lesi ini terdapat bersamaan dengan masuknya bakteri coliform dari vagina pada ayam layer. Unggas terinfeksi biasanya mati selama enam bulan pertama setelah infeksi dan tidak pernah bertelur.
  7. koligranuloma (Hjarre’s disease). Nodul (granuloma) terdapat sepanjang saluran pencernaan, usus dan hati. Lesi menyerupai tuberkulosis.
  8. Sinovitis dan artritis. Unggas yang terinfeksi pincang atau ambruk.
  9. Panolphthalmitis. Unggas mengalami hypopyon, biasanya satu matanya buta.
  10. Perikarditis. Sebagian besar serotipe E. coli setelah septicemia, menyebabkan perikarditis

(Whiteman et al., 1983).

Perubahan Makroskopis dan Mikroskopis

  1. airsaculitis

Infeksi pada kantong udara biasanya diikuti perikarditis dan perihepatitis (Tabbu, 2000). Secara mikroskopis lesi mengandung edema dan infiltrasi heterofil. Terdapat banyak proliferasi fibroblastik dan akumulasi sejumlah besar heterofil nekrotik di dalam eksudat kaseosa (Calnek, 1997).
2.omfalitis
Saat abdomen membengkak dan anak ayam dibuka akan tampak yolk sac tidak diabsorbsi, tapi dipenuhi oleh cairan tidak berwarna atau coklat dan infeksi telah menyebar ke seluruh rongga perut. Kandungan normal yolk sac berubah dari viskositas, kuning kehijauan dan cair, kuning kecoklatan atau masa kaseosa (Calnek, 1997).
3.koliseptisemia
Ginjal membesar dan berwarna hitam. Pada septisemi akut perubahan yang tersifat adalah hati yang berwarna kehijauan dan otot pektoralis yang kongesti, terdapat eksudat fibrinus yang menutupi permukaan hati. Secara mikroskopis hati menunjukkan kongesti disertai infiltrasi heterofil (Tabbu, 2000).

4.enteritis
Enterotocsigenic (ETEC) yang membebaskan toksin dapat menyebabkan akumulasi cairan pada usus. Selama infeksi E. coli akut selalu terdapat cairan menguning (Calnek, 1997). Mukosa usus biasanya mengalami kongesti dan kadang-kadang mengalami deskuamasi akibat endotoksin yang dihasilkan oleh E. coli (Tabbu, 2000).
5.salpingitis
Ditandai dengan bentuk ova yang tidak teratur, ova berwarna kekuningan dan kerapkali ditemukan adanya folikel yang berubah menjadi cyst atau ruptur. Oviduk dapat mengalami obstruksi oleh adanya material yang mengkeju ataupun bagian dari telur yang pecah (Tabbu, 2000). Reaksi jaringan dalam oviduk ringan dan mengandung sebagian besar akumulasi heterofil di bawah epitelium. Estrogen yang tinggi tampak berhubungan dengan pertumbuhan E. coli di oviduk (Whiteman et al., 1983).
6.koligranuloma
Terdapat granuloma di hati, duodenum, sekum, dan mesenterium. Lesi tampak menyerupai tumor, organ mengeras, belang dan membesar (Calneck, 1972).
7.sinovitis dan artritis.

Persendian yang terkena akan membengkak dan jika dibuka dapat ditemukan cairan bening atau mengkeju di dalam persendian tersebut (Tabbu, 2000).
8.panolpthalmitis.

Terjadi pernanahan, biasanya pada satu mata dan mengakibatkan kebutaan. Secara mikroskopis terdapat infiltrasi heterofil dan pagositosis mononuklear di mata serta giant cell terbentuk di sekitar area nekrosis (Calnek, 1972).
Diagnosa

Kolibasilosis dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan makroskopis maupun mikroskopis serta isolasi dan identifikasi bakteri Escherichia coli. Isolasi bakteri dapat berasal dari swab organ visceral seperti hepar, jantung, lien, perikardium, air sac dan yolk sac yang ditanam pada Eosine Methylene Blue (EMB) yang merupakan media selektif untuk Escherichia coli yang diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 370C, yang akan menghasilkan koloni berwarna metallic sheen. Identifikasi Escherichia coli berdasarkan tes laboratorium yang meliputi pengecatan Gram atau sederhana, dan uji biokimia (Giovanardi et al., 2005).

Diagnosa terhadap Kolibasilosis dapat dibedakan berdasarkan strain E. coli yang bersifat patogenik dan nonpatogenik. Tempat pengambilan sampel, kondisi karkas dan lesi alami sangat berguna dalam menentukan apakah isolasi E. coli yang dilakukan tersebut relevan. Strain patogenik dapat menyebabkan kematian atau lesi karakteristik E. coli dalam waktu 3 hari. Tehnik kultur menggunakan media Congo Red telah dianjurkan untuk identifikasi E. coli patogenik (Calnek, 1997).

Differensial Diagnosa:

Penyakit yang menjadi diferensial diagnosa Kolibasilosis adalah mycoplasmosis, salmonellosis, pasteurellosis, pseudotuberculosis, erysipelas, chlamydiosis dan staphylococcosis (Purchase, 1989).

PEMBAHASAN

Hasil anamnesa ayam layer, diperoleh keterangan bahwa ayam layer berumur 48 minggu, berat 1.4 kg dan gejala klinis yang tampak pada ayam layer adalah ayam lesu, nafsu makan turun, produksi telur turun, dan diare. Menurut Akoso (1998) gejala klinis pada ayam yang terserang Kolibasilosis adalah kurus, bulu kusam, nafsu makan dan minum turun, pertumbuhan terganggu, diare, bulunya kotor atau lengket di sekitar pantatnya.
Pemeriksaan secara makroskopik yang terlihat setelah dilakukan nekropsi yaitu hepar konsistensi rapuh dengan bidang sayatan berminyak, sedangkan pada ovarium tampak membubur dengan perkembangan dan bentuk yang tidak teratur. Tabbu (2000) menyatakan bahwa secara makroskopis bakteri E. coli menyebabkan radang pada ovarium yang ditandai dengan bentuk ova yang tidak teratur (membubur), urutan perkembangan ova tidak teratur dan kerapkali ditemukan adanya folikel yang berubah menjadi ruptur (cyst)
Pemeriksaan patologi mikroskopis menunjukkan adanya perubahan pada hepar yang ditandai dengan adanya infiltrasi heteofil pada daerah perivaskuler didaerah porta hepatika. Tabbu (2000) menyebutkan bahwa pada hepar menunjukkan adanya infiltrasi heterofil. Pemeriksaan ovarium secara histologi ditemukan adanya infiltrasi heterofil distroma. Hal ini sama dengan yang disebutkan oleh Tabbu (2000), bahwa secara histopatologik mengandung pada ovarium mengandung sejumlah heterofil.
Hasil pemeriksaan patologi klinik, ayam layerdengan nomor protokol A-236 mengalami hiperfibrinogenemia, hiperproteinemia, leukositosis dan heterofilia. Fibrinogen merupakan parameter pada kejadian keradangan. Adanya proses keradangan akan memicu peningkatan fibrinogen. Peningkatan jumlah fibrinogen tersebut dapat diakibatkan karena tubuh memerlukan fibrinogen baru untuk melindungi endotel pembuluh darah. (Feldman, et. al, 2000). Pada saat terjadi keradangan, akibat adanya infeksi bakteri Esherichia coli, permeabilitas pembuluh darah meningkat dan produksi albumin dan globulin juga meningkat. Hal ini dikarenakan peningkatan globulin untuk pembentukan imunumitas sebagai sistem pertahanan tubuh humoral. Hiperproteinemia juga dapat terjadi karena diare dan dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh (Sodikoff, 1995).

Pemeriksaan diferensial leukosit menunjukkan bahwa hewan mengalami leukositosis yang diikuti terjadinya heterofilia. Leukositosis yang didapatkan dari penghitungan total leukosit biasanya merupakan proses fisiologis dari adanya infeksi atau keradangan. Peningkatan heterofil atau limfosit dapat menjadi penilaian terhadap leukositosis (Feldman et al., 2000). Kebanyakan kejadian leukositosis terlihat pada infeksi akut diikuti dengan kenaikan heterofil (Mitruka dan Rawnsley, 1981). Heterofilia dapat disebabkan peningkatan kebutuhan jaringan untuk fungsi fagositik pada kasus radang yang disebabkan terutama oleh bakteri, dapat juga karena virus, parasit, dan fungi karena heterofil merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan tubuh, sebagai kompensasinya terjadi peningkatan heterofil dalam kapiler. Heterofilia juga dapat disebabkan oleh stres yang akhirnya memicu pembebasan kortikosteroid (Feldman et al., 2000).

Escherichia coli diisolasi dan diidentifikasi dengan pemeriksaan mikrobiologi menggunakan sampel hepar yang ditanam pada media EMB (Eosin-Methylen Blue) yang merupakan media selektif untuk isolasi dan diferensial bakteri enterik, karena kandungan eosin akan menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan Methylen Blue sebagai indikator fermentasi laktosa dan sukrosa yang ditunjukkan oleh adanya perubahan warna (Giovanardi et al., 2005). Hasil dari isolasi pada media EMB akan tampak koloni berbentuk bulat, sirkuler dan halus berwarna hijau metalic sheen. Fermentasi laktosa dan sukrosa membentuk koloni berwarna gelap. Presipitat gelap ini mungkin MB-eosionate yang dipresipitasi sebagai akibat pH rendah yang berada di sekitar koloni yang memfermentasi laktosa atau sukrosa (Howard et al., 1987). Dalam media Mac Conkey’s koloni bakteri Escherichia coli berwarna merah, hal ini sesuai dengan pendapat Purchase et al., (1989) yang menyatakan bahwa bakteri Escherichia coli pada media Mac Conkey’s akan berwarna merah atau pink dengan diameter 1-2 mm. Pada media agar TSI, bakteri menghasilkan asam kuat akibat fermentasi glukosa, laktosa dan sukrosa sehingga mengubah media menjadi warna kuning pada bagian tegak dan miring. Produksi gas dibagian tegak hasil fermentasi akan mengangkat media (Howard et al., 1987). Uji IMViC (Indol, MR-VP dan Citrat) pada media pepton, bakteri mampu memproduksi indol dari tryptophan yang ditandai dengan terbentuknya cincin kemerahan. Uji Methyl red menunjukkan reaksi positif berupa media yang berubah warna menjadi merah dengan interpretasi bakteri mampu memproduksi asam-asam dari glukosa, sedangkan uji Voges Proskauer menunjukkan reaksi negatif berupa media yang tetap berwarna kuning dengan interpretasi bahwa bakteri mampu membentuk acetylmethilcarbinol atau acetocin dari glukosa. Uji sitrat negatif dengan interpretasi bakteri tidak mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbon.

Media semisolid dapat digunakan untuk melakukan uji motilitas dari bakteri Escherichia coli, hasil yang didapat bakteri Escherichia coli bersifat motil dan tumbuh menyebar disekitar tusukan usa pada agar semi solid tersebut. Uji urease pada Escherichia coli negatif dengan interpretasi bahwa Escherichia coli tidak menghasilkan enzim urease. (Raji et al., 2003).
Hasil pengujian dengan gula-gula didapatkan bahwa bakteri mampu memfermentasi glukosa, sukrosa dan laktosa yang ditandai dengan perubahan warna pada media gula-gula yang semula berwarna merah menjadi berwarna kuning. Quinn et al., (2002), menyatakan bahwa E. coli mampu memfermentasikan berbagai media gula-gula seperti glukosa, fruktosa, sukrosa, manitol, trehalosa dan sorbitol.

Media congo red digunakan untuk mengetahui patogenesitas dari E. coli. Menurut Berkoff dan Vinal (1985) Congo red akan positif jika koloni E. coli tumbuh dan berwarna merah dan akan negatif jika berwarna putih pada media. Hasil yang didapat pada uji congo red adalah bakteri berwarna merah. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo et al (2002) bahwa koloni bakteri yang mampu mengikat congo red akan berwarna merah dan koloni yang tidak mengikat congo red akan berwarna putih. Media congo red ini dapat digunakan sebagai media untuk identifikasi sifat pathogen E. coli berdasarkan kemampuan bakteri mengikat warna. (Wibowo et al 2002).

Berdasarkan hasil uji-uji yang digunakan untuk isolasi dan identifikasi bakteri, maka dapat disimpulkan ayam layer tersebut mengalami infeksi bakteri Escherichia coli (kolibasilosis)

 

PENANGANAN DAN PENCEGAHAN

Pengobatan Kolibasilosis diberikan antibiotika seperti oksitetrasiklin, klortetrasiklin, khlorampenikol, fluoroquinolon. Untuk mencegah Kolibasilosis, diutamakan mencegah penyakit yang bersifat imunosupresif dan predisposisi lainnya seperti menjaga suhu dan kadar amonia yang terlalu tinggi, memperbaiki sanitasi.

Selain itu perlu juga diberikan suplemen yang mencukupkan kebutuhan nutrisi ayam layer dan meingkatkan daya tahan terhadap penyakit. Untuk itu dapat anda gunakan improlin-G dan immunose.