Tadi siang seorang peternak dari  kabupaten Luwu Utara- Sulawesi Selatan bertanya tentang performa ayam broiler milik beliau yang sudah tiga periode ini tidak sebaik periode sebelumnya. Menurut beliau penurunan performa ini disebabkan oleh kebijakan Kemitraan yang mengganti pakan pabrikan dengan pakan racikan kemitraan sendiri dengan menggunakan bahan baku lokal. Mungkin bagi para peternak kemitraan broiler di pulau Jawa hal ini jarang kita temui namun di daerah timur indonesia kasus seperti ini sering terjadi dengan alasan kemitraan yang berbagai macam mulai dari naiknya harga pakan pabrikan (padahal harga tidak naik), pengiritan/ efisiensi (padahal harga pakan racikan dihargai sama dengan harga pakan pabrikan) sampai ada yang mengklaim racikannya lebih baik dibanding pabrikan (tepok jidat ;mode on).

Para peternak sekalian tentunya sudah mengetahui bahwa ransum merupakan salah satu kebutuhan utama bagi ayam untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitasnya dan menduduki presentasi 75% dari total biaya yang dikeluarkan dalam pemeliharaan. Dari ransum inilah nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh dalam hal ini perkembangan otot/ daging broiler. Jika jumlah pemberian ransum tidak sesuai kebutuhan maka akan langsung berefek terhadap pertumbuhan broiler. Tidak hanya jumlah pemberiannya, kualitas ransum juga perlu kita perhatikan.  Melihat peran penting dan signifikannya biaya ransum ini maka tidak mengherankan jika perhatian kita pun banyak terfokus pada hal ini. Setiap selisih Rp. 1.000 harga ransum akan mampu menekan biaya pemeliharaan ternak sebesar 25% dari total biaya pemeliharaan. Sehingga memang wajar jika banyak pihak tergiur untuk terjun dalam usaha pakan. Meskipun demikian yang perlu menjadi pedoman kita ialah jangan sampai untuk mencapai keuntungan dari biaya ransum ini berakibat pada penurunan kualitas ransum maupun mengurangi asupan nutrisi yang diperlukan ayam untuk tumbuh. Berberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menekan biaya ransum ialah :

•    Seleksi Supplier Ransum secara Ketat

Supplier merupakan pihak yang menyediakan kebutuhan ransum kita. Sudah seharusnya kita melakukan seleksi yang ketat terhadap supplier ini. Dan sebaiknya kita memiliki setidaknya 2 supplier sehingga bisa menjadikannya kontrol antar supplier, baik kontrol kualitas maupun harga. Selain itu, suplai ransum diharapkan menjadi lebih terjamin.

Seringkali yang menjadi parameter kita dalam pemilihan supplier adalah harga. Hal ini adalah sebuah kewajaran mengingat harga merupakan hal yang penting. Namun, ada hal yang tidak boleh kita abaikan, yaitu kualitas. Perlu kita pahami lagi kualitas ransum ini berpengaruh terhadap produktivitas juga. Jika harganya murah namun kualitas jelek maka jangan berharap ayam akan berproduksi secara optimal, atau malah bisa menyebabkan ayam sakit.

•    Memastikan Ransum yang Diterima Berkualitas

Setiap ransum datang sudah selayaknya kita melakukan quality control (QC). Hal ini untuk memastikan bahwa ransum yang dikirimkan sesuai dengan yang kita pesan. QC yang biasanya dilakukan meliputi fisik dan kimia. QC fisik mencakup bentuk dan ukuran, penggumpalan, warna, bau, rasa maupun ada tidaknya kontaminasi (bahan-bahan asing atau jamur). Jika kita menemukan ketidaksesuian pada QC fisik ini maka patut kita munculkan kecurigaan terhadap kualitasnya. Atau bahkan jika ditemukan jamur atau ransum menggumpal tidak jarang peternak yang langsung menolak kiriman ransum tersebut.

QC kimia, dilakukan dengan menguji sampel ransum dari beberapa bagian dari tumpukan ransum untuk melihat kadar nutrisinya. QC ini biasanya dilakukan melalui analisis proksimat (bisa dilakukan di MediLab) untuk mengetahui kadar air, protein kasar, serat kasar, lemak kasar dan abu. Selain itu perlu diketahui juga kadar kalsium, fosfor maupun kontaminasi jamur (aflatoksin). QC ini sebaiknya tidak hanya dilakukan saat penerimaan saja, namun juga dilakukan secara berkala terutama jika ada pergantian supplier ransum.

Selain QC sampel ransum perlu sekiranya kita cek no batch maupun leaflet yang terdapat pada karung ransum. No batch ini bisa kita gunakan sebagai bahan pengajuan komplain maupun pengaturan penyimpanan dalam gudang.

•    Manajemen Gudang Penyimpanan yang Optimal

Gudang merupakan tempat penyimpanan sementara sebelum ransum diberikan pada ayam. Kualitas ransum seringkali menurun saat berada di gudang, terutama jika kondisi gudang tidak memenuhi standar dengan manajemen pengaturan keluar masuknya ransum.

Gudang seharusnya tertutup, tidak tampias air hujan, memiliki sistem sirkulasi udara yang baik, tidak lembab dan suhunya optimal (26-280C). Selain itu, hindari juga adanya tikus atau hewan pengerat yang bisa mencuri ransum. Perlu disediakan juga label nama sehingga memudahkan kita mengenali ransum. Tak lupa pada setiap bagian bawah tumpukan karung ransum harus selalu diberi alas berupa balok kayu atau pallet plastik. Hal ini untuk menjaga agar ransum tidak menggumpal, berbau tengik, lembab dan tumbuh jamur.

Manajemen pengambilan dan pengeluaran ransum juga perlu dikontrol. Tentu kita sudah sering mendengar istilah FIFO (first in first out) dan FEFO (first expired first out)? Ransum yang sudah mendekati masa kadaluarsa (expired date) atau yang pertama datang, hendaknya segera diberikan ke ayam. Disinilah pentingnya pembuatan label pada setiap kelompok ransum. Sebaiknya tumpukan ransum dibedakan berdasarkan supplier, jenis ransum maupun masa kadaluarsanya.

Kita pun perlu mengatur pola pembersihan, desinfeksi atau kalau perlu penyemprotan insektisida di gudang ransum untuk mengurangi serangga yang bisa menurunkan kualitas ransum. Selain itu, stok ransum di gudang sebaiknya minimal bisa memenuhi kebutuhan selama 1 bulan.

•    Tata Laksana Pemberian Ransum yang Baik

Tata laksana pemberian ransum yang baik akan memastikan ayam memperoleh asupan ransum sesuai dengan kebutuhannya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Agar tujuan ini tercapai maka perlu memperhatikan :

Sesuaikan feed intake dengan kadar asupan nutrisinya

Feed intake (FI) ayam antar peternakan satu dengan yang lainnya seringkali berbeda meski strainnya sama. Pun demikian dengan kualitas ransumnya. Oleh karena itu FI ini harus disesuaikan dengan standar asupan nutrisi.