SNOT / Coryza memang diketahui disebabkan oleh bakteri haemophilus paragalinarum yang merupakan bakteri cocobasil gram negatif, namun y6ang belum banyak dibahas adalah faktor pemicu terjadinya kasus SNOT/ Coryza tersebuT  SNOT / Coryza pada unggas umumnya dipicu oleh keadaan temperature udara dalam kandang yang tidak stabil yang umumnya dipengaruhi cuaca. Hal ini terutama terjadi pada musim kemarau dimana pada siang hari cuaca panas (temperature tinggi) sedangkan pada malam hari cuaca turun sangat drastic sehingga terjadi perbedaan temperatur yang sangat signifikan menyebabkan ayam stress berat dan rentan terinfeksi SNOT. (KLIK INI UNTUK BACA ARTIKEL TENTANG SNOT/ CORYZA YANG SEBELUMNYA).

Tingginya temperature pada siang hari ini juga menyebabkan ayam banyak minum dibanding makan (banyak minum untuk mendinginkan suhu tubuhnya) sehingga tidak hanya kekuranganh nutrisi namun juga menyenbabkan kotoran menjadi lebih encer dan mengandung banyak sisa makanan yang tidak tercerna. Hal ini menyebabkan  tingginya kelembapan kandang dan tingginya kadar amoniak dalam kandang akibat pembusukan pakan yang kelur bersamaan dengan kotoran yang cair tersebut. Selain itu, musim kemarau juga menyebabkan banyaknya debu yang berterbangan yang juga merupakan factor pemicu terjadinya infeksi coryza dan penyakit-penyakit pernafasan lainnya seperti ND, IB, dan CRD. Oleh karena itu, untuk meminimalisir resiko maka pengaturan sirkulasi udara harus baik, termasuk pengaturan kepadatan kandang sehingga ayam tidak semakin diperparah kondisinya.

Pencegahan SNOT / Coryza dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan menghilangkan factor penyebabnya. Selain itu bias juga dilakukan pencegahan dengan melakukan vaksinasi. Akan tetapi, vaksinasi coryza memang tidak bisa melindungi layaknya vakisnasi ND  karena sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa tingkat keberhasilan vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus mencapai 95% akan tetapi untuk vakisnasi terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri tinggakt keberhasilannya hanya mencapai 70% sehingga banyak ditemjukan  ayam yang sudah divaksin caryza masih sering terinfeksi meskipun demikian jika ayam yang sudah pernah divaksin maka proses penyembuhannya akan lebih nmudah disbanding ayam yang tidak divaksin.  Selain itu, sebagaimana yang sudah saya sebeutkan diawal bahwa coryza terdiri dari 4 serotype yaitu A, B, C dan non ABC sehingga vakisn yang monovalen mempunyai tingkat kegagalan yang lebih besar.

Banyak obat yang disebutkan mampu mengatasi infeksi SNOT / Coryza seperti preparat tetrasiklin, neomisin dan streptomisin,   sulfadimetoksin dll. Akan tetapi saya lebih memilih preparat flumequin yang menurut saya dapat menjangkau ke bagian sinus yang minim pembuluh darah yang membuat tidak semua antibiotic mampu menjangkaunya. Selain itu, untuk mengatasi lender atau ngorok dapat menggunakan CERDEX yangdisemprotkan pada uanggas yang sakit. Sekali penyemprotan sudah langsung terlihat perbedaannya. Saran saya sediakan selalu CERDEX sehingga jika sudah muncul gejala ngorok/ cekrek/ cekres maka langsung bisa ditangani sehingga tidak semakin banyak unggas yang terinfeksi.