Hypocalcaemia dapat disebut juga paresis puerpuralis, milk fever, calving paralysis, parturient paralysis, parturient apoplexy adalah penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita mengalami depresi umum, tak dapat berdiri karena kelemahan bagian tubuh sebelah belakang dan tidak sadarkan diri.  Hypocalcaemia yaitu suatu kejadian kelumpuhan yang terjadi sebelum, sewaktu atau beberapa jam sampai 72 jam setelah partus.  Biasanya kejadian ini menyerang sapi pada masa akhir kebuntingan atau pada masa laktasi.  Kasus ini sering dialami sapi yang sudah melahirkan yang ketiga kalinya sampai yang ketujuh. Tetapi di beberapa daerah ternyata penyakit ini ditemui juga pada sapi-sapi dara yang produksi tinggi dan terjadi ditengah-tengah masa laktasi.  Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa biasanya kasus ini terjadi pada sapi perah setelah beranak empat kali atau lebih tua, jarang terjadi pada induk yang lebih muda atau sebelum beranak yang ketiga.  Subronto (2001) mengatakan bahwa beberapa kejadian disertai syndrom paresis yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan sesudah melahirkan.

Ditinjau dari bangsa sapi, bangsa Jersey paling sering menderita penyakit ini disusul kemudian sapi Holstain Frisian dan bangsa sapi yang lain.  Di negara yang maju peternakan sapi perahnya kejadian penyakit mencapai 3-10% dan kadang-kadang di dalam satu peternakan dapat berupa sebagai suatu wabah   dengan angka kejadian mencapai 90% dari populasi sapi perah dikelompoknya.  Kasus ini dapat bersifat habitualis artinya penyakit paresis puerpuralis ini pada induk sapi dapat terulang pada partus berikutnya.

Penyebab yang jelas belum ditemukan, tetapi biasanya ada hubungannya dengan produksi yang tinggi secara tiba-tiba pada sapi yang baru melahirkan.    Sapi yang menderita penyakit ini di dalam darahnya dijumpai adanya hipocalcaemia yaitu penurunan kadar kalsium yang cepat di dalam serum darah penderita.  Subronto (2001) mengatakan bahwa dahulu gangguan ini diduga disebabkan oleh adanya bendungan pada sistem syaraf, alergi, penyakit neuro muskuler, penyakit keturunan, penyakit ketuaan, penyakit infeksi dan penyakit defisiensi makanan yang menyangkut kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin D dan protein.  Pada keadaan normal kadar Ca dalam darah adalah 9-12 mgram persen.  Pada keadaan subklinis kadar Ca dalam darah 5-7 mgram persen dan pada kejadian hypocacaemia kadar ion Ca dalam darah 3-5 mgram persen.  Girindra (1988) mengatakan bahwa jumlah kalsium yang terdapat dalam darah dan cairan ekstra sel hanya kira-kira 8 gram, sedangkan untuk keperluan laktasi dalam satu hari dibutuhkan 3 x jumlah itu.  Jadi kekurangan kalsium jelas merupakan predisposisi kejadian hypocalcaemia.

Dalam kenyataannya hypocalcaemia sering diikuti dengan hipofosfatemia, hipermagnesemia atau hipomagnesemia dan hiperglicemia.  Penurunan kadar kalsium dan posfor ini adalah sebagai akibat dari pemakaian mineral terutama kalsium dan posfor secara besar-besaran untuk sintesa air susu dalam ambing dalam bentuk kolostrum secara tiba-tiba menjelang kelahiran.  Subronto (2001) mengatakan bahwa adanya hypocalcaemia akan diikuti oleh perubahan kadar fosfor dan gula dalam darah.  Kadar fosfor plasma yang rendah diakibatkan oleh penurunan penyerapan fosfor anorganik dari usus.  Mungkin pula disebabkan oleh meningkatnya sekresi parathormon, hingga ekskresi fosfor meningkat.  Pada sapi yang baru melahirkan terbukti kadar hormon tersebut meningkat, sebanding dengan penurunan kadar fosfat di dalam darahnya.  Kenaikan parathormon akan diikuti oleh kenaikan pembongkaran kalsium dalam tulang, yang dalam hal ini dapat dilihat dari ada tidaknya kenaikan hidroksi prolin di dalam kemih.  Hidroksi prolin merupakan hasil pemecahan kalogen.  Dalam hal ini kadar magnesium dalam serum darah mempengaruhi  gejala yang timbul pada sapi perah.  Jika kadar magnesium dalam serum normal atau lebih tinggi maka gejala tetani dan eksitasi akibat hipocalcaemia akan diikuti oleh relaksasi, otot lemah, depresi dan koma.  Jika kadar magnesium rendah dalam serum maka akan terlihat kekejangan selama beberapa waktu.  Berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena pembebasan magnesium bersama air susu yang besarnya 0.1 g dan berkurangnya penyerapan magnesium lewat dinding usus.  Gangguan terhadap metabolisme karbohidrat juga dapat menyebabkan berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah.  Bila kadar magnesium dalam serum hewan yang menderita hypocacaemia tidak menurun atau lebih tinggi maka gejala eksitasi dan tetani akan segera diikuti oleh relaksasi.  Otot-otot kelihatan melemah, depresi dan pada akhirnya koma.  Perbandingan Ca:Mg bisa berubah dari 6:1 menjadi 2:1 dan dalam perbandingan ini efek narkase magnesium nyata dapat dilihat.  Hypocalcaemia dapat menghambat ekskresi insulin sehingga pada kasus ini biasanya selalu diikuti kenaikan kadar glukosa darah (Girindra 1988).  Subronto (2001) mengatakan bahwa kenaikan moderat kadar glukosa dalam darah (hiperglisemia) dijumpai pada sapi yang baru melahirkan dan hewan tidak memperlihatkan gejala klinis.  Pada sapi yang menderita paresis berat kadar glukosanya dapat mencapai 160 mg/dl.  Hal ini disebabkan oleh terhambatnya sekresi insulin oleh karena turunnnya kadar kalsium darah.  Selain itu hyperglisemia juga dapat disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon glukagon yang dihasilkan oleh sel A dari pankreas dan berfungsi untuk menaikkan kadar glukosa darah serta meningkatkan pembongkaran glikogen hati.  Glukagon juga mampu merangsang  enzim adenil siklase di dalam hati, hingga proses glikogenolisis ditingkatkan dan menghambat sintesa glikogen dari UDP-glukosa (UDP, uridin difosfat).  Kadang-kadang dalm milk fever juga terjadi penurunan kadar potassium.  Penurunan kadar ion K tersebut sebanding dengan lamanya sapi tidak dapat berdiri.  Makin lama berbaring makin besar penurunan ion K.  Sapi yang terlalu lama berbaring oleh rusaknya sel-sel otot akan diikuti kenaikan kadar SGOT. Pada kasus milk fever kadang-kadang kenaikan enzima tersebut mencapai 10%. Kemungkinan faktor genetis yang berhubungan dengan produksi susu yang tinggi merupakan penyebab lain dari penyakit paresis puerpuralis.  Pada sapi perah yang pernah menderita penyakit ini dapat menurunkan anak yang juga mempunyai bakat menderita paresis puerpuralis.

Paresis puerpuralis biasanya terjadi 18-24 jam post partus.  Akan tetapi dari laporan bahwa penyakit ini dapt juga terjadi beberapa jam sebelum partus atau beberapa hari setelah partus.  Penyakit ini juga dapat terjadi pada induk sapi yang mengalami kelahiran yang sukar (dystokia) karena kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan fetus.  Kasus yang terjadi di lapangan mulai terjadi sejak dua minggu post partus dan sapi benar-benar ambruk baru lima hari.

Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa ada beberapa teori, mengapa sapi perah yang baru melahirkan dan produksi susu tinggi sering terjadi hipocalcaemia sehingga mendorong terjadinya kasus paresis puerpuralis.

  1. Hormon parathyroid yang kadarnya mengalami penurunan dalam darah  (defisiensi), karena stres kelahiran dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam darah khususnya kalsium disusul adanya hipokalcaemia dan selanjutnya timbul kasus paresis puerpuralis.  Berkurangnya aktivitas parathormon pada saat kelahiran disebabkan oleh defisiensi vitamin D.
  2. Stres melahirkan menyebabkan hormon tirokalsitonin yang mengatur glukosa usus dalam menyerap mineral kalsium dari pakan menurun dan mempengaruhi kadar kalsium dalam darah.  Bila hormon tirokalsitonin menurun dapat diikuti menurunnya kadar kalsium dalam darah.  Hormon tirokalsitonin atau kalsitonin dihasilkan oleh sel ultimobranchial C dari kelenjar tiroid.
  3. Waktu proses kelahiran, kalsium dibutuhkan terlalu banyak oleh air susu, khususnya dalam kolostrum.  Kebutuhan ini dapat dicukupi dari ransum pakan ternak, dari tulang dalam tubuh induk atau dari darah.  Rendahnya penyerapan kalsium dalam ransum pakan atau absorbsi kalsium dalam saluran pencernaan, dapat disebabkan adanya gangguan pada dinding usus.  Penurunan nafsu makan pada induk yang sedang  bunting mengakibatkan masuknya bahan pakan menurun, menyebabkan penyediaan kalsium dalam alat pencernaan yang rendah diikuti oleh penyerapan kalsium juga rendah.  Daya menyerap dinding usus terhadap kalsium dapat menurun pada induk sapi yang sudah tua.  Pada sapi yang masih muda 80% kalsium dalam usus dapat diserap, makin tua umurnya makin menurun daya serap usus terhadap kalsium, karena pH usus yang tinggi dan kadar lemak yang tinggi dalam makanan dapat menghambat penyerapan kalsium.  Pada sapi yang sudah tua, penyerapan kalsium hanya mencapai 15% dari kalsium yang ada dalam pakan.
  4. Persediaan kalsium dalam tulang yang dapat dimobilisasi, bervariasi menurut umur sapi.  Pada anak sapi, 6-20% kebutuhan normal akan kalsium dapat disediakan oleh tulang, sedang pada sapi yang telah tua kemampuan tulang dalam menyediakan kalsium hanya 2-5%.
  5. Vitamin D berperan dalam menimbulkan kasus paresis puerpuralis.  Gangguan terhadap produksi pro vitamin D dalam tubuh dapat mengurangi tersedianya vitamin D  dan dapat mendorong terjadinya penyakit ini, karena vitamin D mengatur keseimbangan kalsium dan posfor dalam tubuh dan proses deposisi atau mobilisasi kalsium dari tulang yang masih  muda.  Vitamin D yang aktif di dalam metabolisme kalsium dan fosfor adalah vitamin D3 (25-Hydroxycholecalciferol).
  6. Hormon estrogen dan steroid yang lain baik yang dihasilkan oleh plasenta maupun kelenjar adrenal bagian korteks dapat menurunkan penyerapan kalsium dari usus atau mobilisasi kalsium dari tulang muda.  Pada sapi bunting aktifitas estrogen plasma meningkat sampai satu bulan sebelum melahirkan.  Peningkatan berlangsung dengan cepat satu minggu sebelum melahirkan untuk kemudian menurun tajam 24 jam sebelum melahirkan.

Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya paresis puerpuralis yaitu :

  1. Produksi susu tinggi.  Sapi perah yang mempunyai produksi susu yang tinggi membutuhkan kalsium dari darah untuk produksi susu yang tinggi.  Akibatnya kadar kalsium dalam darah dalam waktu singkat menjadi rendah (hypocalcaemia), diikuti gejala paresis puerpuralis.
  2. Umur.  Produksi susu secara normal, grafiknya akan meningkat mulai laktasi keempat sampai umur-umur berikutnya dan diikuti dengan kebutuhan kalsium yang meningkat pula.  Sedangkan kemampuan  mukosa usus untuk menyerap kalsium makin tua umurnya makin menurun.
  3. Nafsu makan.  Pada kira-kira 8-16 jam sebelum partus induk sapi akan menurun nafsu makannya swampai pada tidak mau makan sama sekali.  Hal ini mengakibatkan persediaan kalsium dalam pakan yang siap dicerna menjadi menurun, akibatnya kekurangan kalsium diambil dari darah sehingga kalsium dalam darah menjadi turun dan diikuti oleh hypocalcaemia.  Penurunan nafsu makan mungkin juga disebabkan meningkatnya kadar estrogen dalam darah pada fase terakhir dari kebuntingan menjelang terjadinya kelahiran.  Keadaan ini dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh sehingga kadar kalsium dalam darah merosot dari keadaan normal yaitu 9-12 mgram persen menjadi 4-5 mgram persen.
  4. Ransum makanan.  Ransum yang baik adalah bila imbangan antara Ca dan P mempunyai perbandingan 2 dan 1.  Ransum pakan semacam ini adalah ransum yang dianjurkan sapi untuk sapi perah menjelang partus.  Sapi bunting tua yang diberi ransum kaya akan Ca dan rendah P cenderung mengalami paresis puerpuralis sesudah melahirkan.