Cacing yang menyerang pada unggas umumnya terdiri dari dua jenis yaitu jenis cacing pita (cestoda) dan cacing gilig (nematoda). Pembagian jenis cacing pita dan cacing gilig ini didasari atas bentuk kedua jenis cacing tersebut, dimana cacing gilig berbentuk gilig atau bulat seperti cacing pada umumnya sedangkan cacing pita berbentuk seperti pita yang tersusun atas segmen-segmen membentuk layaknya potongan-potongan pita yang memanjang.

Infeksi cacing pada peternakan sering dianggap remeh, tidak seperti infeksi penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakterial atau viral. Akan tetapi, tanpa disadari bahwa infeksi cacing juga akan menimbulkan efek yang cukup fatal dalam produksi peternakan seperti penurunan berat badan, penurunan produksi telur, penurunan titer antibodi, gangguan penyerapan nutrisi, peradangan saluran pencernaan dll. Sehingga jangan langsung meyalahkan vaksin jika ada penyakit yang jebol, atau jangan pula menyalahkan pakan ataupun suplemen karena tidak mampu mendongkrak berat badan ataupun produksi telur, namun perhatikan dulu kondisi saluran pencernaan ternak anda, apakah sudah terbebas dari infeksi cacing.

Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, bahwa pada ternak unggas cacing ynag umumnya menyerang adalah cacing gilig dan cacing pita. Berikut ini akan sedikit kami jelaskan tentang perbedaan keduanya sehingga kita tidak salah mendiagnosa jenis cacing yang meninfeksi dan tidak salah juga dalam menentukan pengobatannya.

Cacing gilig (nematoda)

Cacing gilik merupakan cacing yang paling umum menginfeksi saluran pernafasan unggas. Cacing ini disebut cacing gilig karena bentuknya yang bulat seperti cacing tanah namun pada unggas dengan ukuran yang lebuh kecil. Dari banyak Jenis cacing gilig, maka spesies yang umumnya menginfeksi unggas adalah Ascaridia Sp. Penularan cacing ini melalui pakan, air minum dan litter yang tercemar oleh kotoran ayam yang Mengandung telur cacing. Bila telur cacing ascaridi inii berada pada tanah yang hangat dan  lembab selam kurang lebih 8 hari amak telur akan menjadi telur cacing yang infektif. Telur yang infektif tersebut jika tertelan oleh ayam maka akan menetas dalam saluran pencernaan dan dalam waktu 4 minggu sudah akan ammou untuk produksi telur. Selama itu dan untuk memenuhi kebutuhannya, cacing tersebut akan terus makan dari usus ternak untuk kelangsungan hidup cacing tersebut dan juga bereproduksi menghasilkan telur cacing. Telur cacing ini pada kondisi yang ideal dapat bertahan diluar tubuh sampai 4 bulan oleh sebab itu harus dihindari tempat yang basah dan lembab. Jika lokasi kandang terdapat kondisi yang ideal maka bisa jadi populasi cacing didalam tubuh broiler akan semakin banyak dan merata karena penularan ini bisa juga melalui telur cacing yang menempel pada lalat yang kemudian hinggap pada pakan yang kemudian telur tersebut masuk kembali kealam tubuh broiler.

Adapun pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan pembelian obat cacing yang mengandung piperazin. Efek pengobatan maksimal hanya terccapai jika konsentrasi piperazin yang kontak dengan cacing tergolong tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka obat harus dikonsumsi broiler selama beberapa jam. Piperazin yang mempunyai efek narkotik sehingga cacing yang dikeluarkan dalam kondisi hidup  oleh adanya gerakan usus yang mendorong keluar cacing tersebut dari saluran pencernaan. Tentang merek obat cacing bisa disesuaikan dengan merek yang tersedia di poultryshop langganan anda, ikuti pentunjuk pemakainnya. Selain pemberian obat  cacing juga harus diberikan suplemen multivitamin dan suplemen yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh ayam, karena dikhawatirkan telah terjadi kerusakan pada saluran pencernaan khususnya mukosa usus broiler akibat cacing tersebut. Salah satu pilihan yang tepat dalam hal ini adalah biovita. Dengan biovita maka nutrisi akan lebih mudah tercerna dan terserap sempurna. Hal ini sangat dibutuhkan karena kondisi mukosa usus yang rusak menyebabkan broiler sulit menyerap nutrisi yang efeknya broiler akan megalami penurunan berat badan dan peningkatan FCR.

Semoga bermanfaat…