Asites disebabkan oleh banyak faktor dan tidak spesifik (OLKOWSKI dan CLASSEN, 1998). Menurut TRI AKOSO (1993) penyebab asites belum diketahui secara pasti, namun penggunaan garam yang berlebihan di dalam pakan diperkirakan dapat menimbulkan penyakit ini. Selanjutnya TABBU (2002) menyatakan bahwa, penyebab kejadian asites pada ayam pedaging dapat dihubungkan dengan tiga faktor yang saling berhubungan, yaitu, faktor fisiologik, manajemen dan lingkungan . Faktor pendukung utama adalah kebutuhan oksigen yang meningkat guna memenuhi percepatan pertumbuhannya .

Beberapa sindrom penting yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah, mendukung terjadinya asites, antara lain: kerusakan hati (akibat toksin hepatik) pada semua tipe unggas, penyakit jantung primer (endokarditis, miokarditis) yang disebabkan oleh virus) dan hipertensi pulmonum .

Banyak faktor, baik secara sendiri-sendiri maupun kombinasi yang dapat menyebabkan hipertensi pulmonum, tetapi kebanyakan akibat hipoksemia (keadaan oksigen darah yang menurun). Hipoksemia dapat mengakibatkan peningkatan “cardiac output“, polisitemia (bertambahnya jumlah eritrosit dalam tubuh), peningkatan Hemoglobin (Hb) dan Packed Cell Volume (PCV). Perubahan pada darah yang menimbulkan kekentalan darah, eritrosit menjadi lebih besar dan lebih kaku, akan menyulitkan darah untuk melewati kapiler paru-paru. Keadaan ini mendukung hipertensi pulmonum (CALNEK et al ., 1997) . Sementara itu, DECUYPERE et al . (2000) mengatakan bahwa, asites disebabkan oleh faktor endogenus struktural, yaitu : paru-paru tidak mampu berkembang, jaringan paru-paru dan pembuluh darah bervariasi dan perubahan rasio kapiler darah dan serabut otot . Faktor endogenus fungsional, yakni : perbedaan kebutuhan oksigen antara ayam jantan dan betina, ayam yang cepat tumbuh, lambat tumbuh dan fungsi tiroid.

Secara patologi, penyebab asites dapat dihubungkan dengan berbagai lesi yaitu :

  1. Penyumbatan saluran limfe,
  2. Pengurangan osmotik cairan plasma
  3. Peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah
  4. Peningkatan tekanan hidrostatik sistem vaskuler sebagai akibat dari :

a) kelainan patologi hati,

b) kelainan patologi katup atrioventrikuler bagian kanan,

c) hipertensi pulmonum dan

d) kelainan patologik lainnya (JULIAN, 1993) .

CURRIE (1999), menggolongkan penyebab asites ke dalam tiga kategori, yaitu :

1)  Hipertensi pulmonum,

2)  Macam-macam kelainan patologi jantung dan

3) Gangguan seluler yang disebabkan oleh reaksi jenis oksigen .

Secara fisiologis antara jantung dan paru-paru saling ketergantungan, dan kebanyakan perubahan organ dapat menjadi penyebab atau membawa konsekuensi hipertensi pulmonum . Penyebab asites lainnya, diperkirakan dapat terjadi pada periode embrional, meskipun kejadiannya baru akan muncul setelah penetasan dan mencapai puncaknya pada minggu ke-lima sampai ke-enam periode pertumbuhannya (COLEMAN dan COLEMAN, 1991 ; Buys et al., 1998) . Kekurangan oksigen ketika di dalam suatu mesin penetasan telur (inkubator) dapat mendukung timbulnya asites (TABBU, 2002).

Patogenesis Asites

Perkembangan asites biasanya diawali dari stres yang melampaui toleransi jantung atau paru-paru untuk mendapatkan oksigen yang cukup tinggi . Sebagai kompensasinya, frekuensi denyut jantung akan berubah cepat untuk meningkatkan aliran darah ke paru-paru dan jaringan tubuhnya, guna memenuhi kebutuhan oksigen tersebut . Akibatnya tekanan darah meningkat (hipertensi) di dalam pembuluh darah kecil/kapiler, permeabilitas kapiler meningkat dan cairan akan lolos ke dalam rongga perut (asites) atau sekitar jantung (hidroperikardium) (TABBU, 2002) .

Peningkatan tekanan dalam paru-paru dan pembuluh darah paru-paru menyebabkan peningkatan tekanan pada dinding ventrikel kanan, sehingga terjadi pembesaran (hipertropi) ventrikel tersebut . Hipertropi ventrikel kanan akan menimbulkan peningkatan retensi aliran darah ke paru-paru, yang mengakibatkan tekanan intra vaskuler paru-paru bertambah, sehingga terjadi edema paru-paru yang dapat menimbulkan kematian hewan. Di samping itu, hipertropi ventrikel kanan juga dapat menyebabkan ketidakmampuan katup jantung, karena terjadi kebocoran katup tersebut, terutama akibat katup yang kurang efektif dan akibat tekanan balik arteri pulmonum dan tekanan ruang ventrikel bagian kanan. Akibat katup jantung bagian kanan yang bocor akan menambah volume darah yang berlebihan pada ventrikel kanan yang mempunyai tekanan yang berlebihan pula, sehingga menimbulkan dilatasi pada ventrikel kanan. Selanjutnya akan terjadi penurunan darah yang melewati paru-paru dan meningkatkan tekanan balik di dalam vena . Tekanan balik (vena) ini (menyebabkan pembendungan dan edema hati) dapat mengakibatkan kebocoran plasma dari hati ke dalam ruangan hepatoperitoneal. Cairan plasma akan terkumpul dalam ruangan abdomen dan timbunan cairan tersebut disebut asites (JULIAN, 1993 ; TABBU,2000) .

Kejadian asites ini, juga bisa dipicu oleh rendahnya suplai 0 2/oksigen (tekanan atmosfer yang rendah/kadar oksigen rendah) untuk merespon kebutuhan metabolisme . Kemudian menggertak terjadinya peningkatan aliran darah atau kekentalan darah dan selanjutnya dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah di dalam paru-paru dan pembuluh darah paru. Ayam pedaging yang dipelihara di suatu lokasi dengan udara dingin dan tekanan udaranya rendah, misalnya di dataran tinggi (>1 .500 m di atas permukaan laut/dpl), porsi 0 2-nya menurun sehingga ayam akan kekurangan 02 (JULIAN, 1993) .Menurut TABBU (2002), persentase equivalen 02 menurun sekitar 1% pada setiap kenaikan 500 m dpl. Kekurangan 02 ini akan mengakibatkan ginjal bereaksi dan menggertak eritropoietin untuk meningkatkan produksi sel darah . Peningkatan sel-sel darah akan menyebabkan viskositas darahnya meningkat . Padahal spesies avian mempunyai kapiler berukuran kecil dan keras, sedangkan sel darah (muda) pada ayam pedaging mempunyai inti sel yang lebih besar dan lebih kaku . Oleh karena itu, peningkatan viskositas darah tersebut dapat merupakan faktor pendukung terpenting kejadian hipertensi pulmonum, yang akhirnya dapat memicu terjadinya asites . Laju pertumbuhan yang cepat dan Basal Metabolisme Rate (BMR) yang tinggi, merupakan faktor predisposisi kejadian asites . Faktor ini erat kaitannya dengan hipertensi pulmonum yang dapat menimbulkan hipertropi ventrikel kanan .

Manajemen optimal dengan pemberian pakan berprotein tinggi merupakan faktor utama pendukung kejadian asites, sehubungan dengan laju pertumbuhan yang tinggi . Protein membutuhkan oksigen dalam jumlah besar untuk proses metabolismenya, sehingga oksigen diperlukan untuk mengubah kelebihan protein menjadi energi dan mengeluarkan sisa metabolisme protein. Demikian pula halnya dengan pakan yang berbentuk pelet (bersifat padat), yang mudah dimakan dan dicerna, dapat mendukung terjadinya asites (TABBU, 2002) . Oleh sebab itu, kelebihan protein dapat menyebabkan jaringan tubuh kekurangan oksigen (hipoksia). Faktor pendukung lain, misalnya, cuaca dingin, panas, aktivitas, hipertiroid, massa otot yang besar dan kelebihan makan (overeating) dapat menyebabkan kebutuhan oksigen pada jaringan tubuh ayam meningkat . Menurut BOLINK et al. (2000), ayam yang memiliki persentase otot dada lebih tinggi atau massa otot yang besar dan kepadatan kapilernya lebih rendah, akan mempunyai resiko kekurangan suplai oksigen ke dalam otot dada. Ayam semacam itu sangat rentan terhadap terjadinya asites .

Kontak dengan udara dingin dapat menyebabkan hemokonsentrasi, yang selanjutnya meningkatkan viskositas (kekentalan) dan tekanan darah (JULIAN, 1993). Sebaliknya udara panas (>28°C), menyebabkan konsumsi pakan dan laju metabolik menurun, ayam banyak minum sehingga mengganggu kandungan elektrolit darah atau keseimbangan asam/basa dan tekanan osmotik sel-sel tubuh, sehingga terjadi asites . Mekanisme kejadian asites dan berbagai kemungkinan faktor penyebabnya dapat dijelaskan dengan diagram pada Gambar I

 

Suhu lingkungan yang fluktuatif juga berdampak negatif terhadap ayam pedaging yang sedang tumbuh, karena dapat meningkatkan kematian ayam penderita asites 1,4% (McGOVERN et a!., 2000) . Sementara SATO et al. (2002) menyatakan bahwa, sindrom hipertensi pulmonum (PHS) pada ayam berumur lebih 35 hari, dapat meningkatkan nilai hematokrit (volume sel darah, terutama eritrosit) . Keadaan ini lebih banyak (90%) terjadi/ditemui pada ayam jantan dibandingkan dengan ayam betina. Obesitas (secara patologis) dapat mempengaruhi kerja jantung, karena menginduksi tekanan darah pada paru-paru sehingga memicu terjadinya kongesti pada ventrikel kanan dan meningkatkan cairan peritoneal .

Hipoksia juga dapat memicu peningkatan tekanan darah jantung (cardiac output) . Sebagai konsekuensinya tekanan darah pada arteri pulmonum meningkat. Agen lain yang menginduksi hipervolaemia (misalnya natrium) dan endokarditis juga akan menimbulkan efek yang sama pada cardiac output . Tingginya tekanan darah pada arteri pulmonum juga dapat disebabkan oleh pengurangan kapasitas pembuluh darah (vaskularisasi) paru-paru, polisitemia, viskositas darah meningkat, deformitas eritrosit, kelainan patologi kapiler darah paru dan emboli yang dapat memblokade sirkulasi darah . Hal tersebut akan menimbulkan tekanan yang berlebihan (overloaded) pada ventrikel kanan dan hipertropi ventrikel tersebut dapat meningkatkan tekanan intravaskuler paru-paru sehingga mengakibatkan edema paru-paru dan kematian hewan mendadak . Ketidakmampuan (insuffisiensi) katup atrio-ventrikuler kanan juga dapat mengakibatkan volume ventrikel berlebihan Akibat dari kegagalan jantung ini menimbulkan pembendungan hati dan akhirnya terjadi asites (JULIAN,1993 ; CURRIE, 1999) .

Kapasitas paru-paru yang jelek akibat infeksi E.coli atau Aspergillus sp. pada anak ayam dapat menimbulkan kerusakan pada organ paru-paru dan berpotensi menimbulkan hipertensi pulmonum . Karena kapasitas paru-paru terbatas dan selanjutnya akan diikuti gagal jantung (hipertropi dan dilatasi ventrikel kanan) dan akhirnya akan mudah terjadi asites .

Sementara itu, gangguan drainase limfe dapat menimbulkan hambatan kembalinya cairan ke dalam sistem pembuluh darah melalui pembuluh limfe, sehingga terjadi akumulasi berlebihan di dalam jaringan interstitialnya . Kemudian dapat berlanjut menjadi edema atau asites . Kadar NaCI yang tinggi dalam pakan atau air minum dapat meningkatkan aliran darah dan menimbulkan hipertensi yang berakhir dengan edema (TABBU, 2002) .

  1. ARTIKEL SEBELUMNYA, ASITES BAGIAN PERTAMA (KLIK INI)

  2. ARTIKEL SELANJUTNYA, ASITES BAGIAN KETIGA (KLIK INI)