Penanggulangan asites terutama ditujukan pada faktor pendukung primer yakni, faktor genetik yang mempengaruhi perkembangan kapasitas pembuluh darah dari organ (paru-paru dan jantung) yang terbatas dan kebutuhan oksigen yang tinggi . Oleh karena itu, seleksi genetik terhadap jenis ayam tertentu mempunyai peranan penting dalam penanggulangan asites ini . Di samping itu, penanggulangan asites juga ditujukan untuk menghilangkan faktor sekunder yang dapat mempengaruhi peningkatan aliran darah . Perlu ditentukan sumber penyebab kasus tersebut . Bila kejadian asites sejak DOC atau pada minggu pertama kehidupan ayam dan ada lutut yang merah (red hock), maka kasus tersebut akibat kesalahan manajemen hatchery. Bila asites muncul pada saat minggu kedua, bisa disebabkan oleh kegagalan manajemen brooding, yang menyebabkan anak ayam kedinginan dan kekurangan oksigen . Oleh karena itu harus segera dilakukan evaluasi terhadap alat pemanas (jenis dan ketinggian), kualitas sekam, aliran udara dan kepadatan. Pada saat musim hujan manajemen brooding dan lepas brooding menjadi sangat penting . Di samping itu, pencegahan kontaminasi Aspergillus sp. dan infeksi bakterial dapat dilakukan seawal mungkin sejak dari telur tetas hingga ayam dewasa (TROBOS, 2005) .

Menurut TABBU (2002), pengendalian dan pencegahan asites hendaknya ditujukan pada upaya menekan pencapaian bobot badan yang terlalu cepat dan mencegah berbagai faktor pendukung sindrom tersebut . Misalnya, praktek manajemen yang ketat (khususnya ventilasi yang optimal), penurunan tingkat kepadatan, pengendalian penyakit pernafasan, menekan kadar amonia dalam kandang, menjaga kadar NaCI atau Na dalam pakan yang optimal dan menghindari stres . Pengobatan yang spesifik terhadap ayam penderita asites tidak ada. Pemberian antibiotik biasanya hanya dilakukan jika faktor pendukung asites adalah infeksi bakterial dan pemberian vitamin C untuk mengatasi stres yang dapat memperberat efek asites .

Di daerah dengan udara dingin, Frusemide sebagai diuretik yang biasa digunakan untuk pengobatan gagal jantung, bisa ditambahkan dalam pakan . WIDEMAN et al. (1994) menyebutkan bahwa, penambahan Frusemide dengan dosis 0,001%, 0,005% dan 0,01 dapat mengurangi kejadian asites tanpa penurunan bobot badan akhir secara signifikan . Selanjutnya CHAKRBARTI dan CHANDRA (2001) melaporkan bahwa, pemberian Livol Classic dikombinasi dengan Lasilactone dapat digunakan untuk pengobatan asites . Livol Classic (produk herbal) 2% dalam pakan (selama 3 minggu) dan Lasilactone 50 diberikan melalui air minum dengan dosis 0,25 mg/kg bobot badan. LADMAKHI et al. (1997) melaporkan bahwa, penambahan vitamin C dalam pakan dapat mengurangi kejadian stres dan plasma tiroid tereduksi secara nyata . Penambahan vitamin C 500 mg/kg dalam pakan yang diberikan pada ayam yang dipelihara di lokasi dengan temperatur rendah, tidak mempunyai efek terhadap pertumbuhan, konsumsi pakan dan konversi pakan . Suplementasi vitamin C bertujuan untuk mengurangi efek stres akibat infeksi . Hal ini telah ditunjukkan dengan adanya pengurangan rasio heterofil/limfosit pada unggas yang stres, akibat infeksi E. coli atau stres sebelum pemotongan untuk mengurangi kematian (GROSS, 1988).

Pembatasan pakan pada periode awal dapat menekan kejadian asites pada ayam pedaging . Kondisi ini dapat dicapai dengan program penyinaran yang sesuai (pembatasan lama penyinaran), pemberian pakan bentuk mash (tepung) dan pengurangan kandungan energi dan/atau protein dari pakan (TASeu, 2002) . Program penyinaran (gelap/terang silih berganti) ini membantu mengatur metabolisme tubuh . Karena pada saat gelap, ayam tidak makan dan istirahat . Ini dimaksudkan untuk mengurangi bobot badan supaya tidak terlalu cepat pertumbuhannya . Menurut GORDON (1997) ayam pedaging yang diberi penyinaran hanya delapan jam sehari pada saat umur lima hari sampai dengan umur 21 hari, dapat mengurangi pertambahan bobot badannya 11% bila dibandingkan dengan ayam yang diberi penyinaran 23 jam sehari, dan mortalitasnya juga lebih rendah . Hal ini berarti dapat mengurangi kejadian asites .

KESIMPULAN

Dari uraian tersebut pada artikel asites bagian pertama sampai ke empat ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Asites pada ayam pedaging merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan akumulasi cairan tubuh di dalam rongga perut . Kasus ini dapat terjadi pada ayam umur sehari (DOC) – dewasa dengan tingkat keparahan yang berbedabeda dan ayam jantan lebih peka dibandingkan ayam betina . Asites juga dapat dijumpai pada itik pedaging, ayam petelur (layer) dan ayam pembibitan .
  2. Asites merupakan sindrom penting pada ayam  pedaging hasil seleksi, yang erat hubungannya dengan pertumbuhan yang cepat . Faktor pendukung utama kejadian asites adalah kebutuhan oksigen yang tinggi untuk pertumbuhannya, sehingga memaksa tubuh untuk meningkatkan aliran darah menuju paru-paru . Terbatasnya kapasitas paru-paru dapat mengakibatkan akumulasi dan peningkatan tekanan di dalam kapiler paru-paru (hipertensi pulmonum) . Selanjutnya diikuti dengan gagal jantung (hipertropi dan dilatasi ventrikel kanan), sehingga menimbulkan gangguan aliran darah balik yang menyebabkan kongesti pada hati dan berakhir dengan asites.
  3. Faktor pendukung kejadian asites lainnya ialah, udara dingin, panas, dan beberapa nutrien yang dapat meningkatkan aliran darah akibat laju metabolik yang tinggi . Kerusakan paru-paru semasa embrional atau setelah menetas akibat toksin E. Coli atau Aspergillus sp. dapat menyebabkan ayam sensitif terhadap asites ini .
  4. Asites merupakan titik akhir dari sejumlah reaksi vaskuler yang dipaksakan oleh tekanan hemodinamik yang tidak seimbang, sehingga menimbulkan kelemahan kapiler tersebut. Hal ini merupakan reaksi dari berbagai peristiwa lingkungan, fisiologik, nutrisi dan genetik . Dalam penelitian terakhir diungkapkan bahwa, etiologi asites merupakan rangkaian kejadian dalam jantung, paru-paru dan sistem sirkulasinya yang saling berkaitan satu sama lain .
  5. Penanggulangan asites meliputi pengendalian dan pencegahan, sedangkan pengobatan yang spesifik terhadap ayam penderita asites tidak ada. Pengendalian dapat dilakukan dengan melaksanakan suatu program terpadu yang meliputi faktor kesehatan, pakan dan manajemen. Praktek manajemen yang ketat terhadap berbagai faktor pendukung sindrom asites diharapkan dapat mengurangi atau mencegah terjadinya kasus tersebut .

 

ARTIKEL SEBELUMNYA , ASITES BAGIAN 3 (KLIK INI)