Penyakit Infectious Bronchitis (IB) adalah penyakit yang cukup merugikan bagi pada usaha peternakan ayam. Penyakit ini penularannya sangat cepat dengan angka kesakitan 50-100%, kerusakan yang ditimbulkan adalah pada saluran respirasi dan saluran reproduksi serta ginjal. Sehingga IB pada broiler menyebabkan gangguan pertumbuhan dan mortalitas, sedangkan pada layer dan breeder terjadi penurunan dalam jumlah maupun kualitas telur.

 

Penyebab penyakit ini adalah  virus corona yang tergolong single stranded (ss) RNA, family  Coronaviridae dan genus Coronavirus. Virus IB umumnya berbentuk bulat, walaupun dapat berbentuk pleomorfik. Virus ini mempunyai envelope dan diameter 90-200 nm. Virus IB diklasifikasikan ke dalam beberapa serotype berdasarkan test virus-neutralisation (VN), hal ini penting untuk membedakan sifat antigenik dan genetik masingmasing serotype. Walaupun ternyata di dalam tubuh ayam dapat terjadi cross-protective di antara serotype yang dikenal dengan istilah protectotype. Salah satu serotype yang amat penting adalah Massachusetts, karena kemampuannya dalam menimbulkan efek cross-protective dengan beberapa serotype dan genotype yang berbeda. Efek cross-protective ternyata dapat ditingkatkan prosentasenya apabila Massachusett dikombinasikan dengan serotype Connecticut.

 

Pintu masuk infeksi IB adalah melalui selaput lendir mata dan/ atau saluran pernapasan bagian atas setelah kontak dengan udara, air, dan/atau makanan yang tercemar virus. Masa inkubasinya cukup cepat yaitu 18-36 jam, dan dapat menulari seluruh flock dalam 1-2 hari. Sejauh ini belum ditemukan adanya penularan secara vertikal, akan tetapi harus dicegah terjadinya kontaminasi cangkang telur akibat kurang ketatnya biosekuriti di hatchery. Ayam terinfeksi virus lapangan maupun yang sudah mendapat vaksin live IB dapat menimbulkan shedding beberapa minggu bahkan beberapa bulan. Penyakit dapat berulangkali terjadi pada ayam petelur maupun breeder ketika kekebalan menurun maupun bila terinfeksi oleh serotype yang berbeda.

 

Gejala klinis yang muncul pada awalnya adalah gangguan pernapasan ringan berupa bersin, ngorok dan batuk ringan ditandai dengan mata dan hidung yang berair. Apabila terjadi infeksi sekunder, baik akibat Mycoplasma maupun E. coli, gejala yang timbul semakin parah dan semakin sulit disembuhkan, ditandai dengan lendir yang mengental pada trachea dan bronkhus dan air sacculitis. Anak ayam yang terjangkit IB cukup parah sebelum umur 2 minggu, baik akibat reaksi vaksin maupun virus alam, dapat mengalami kerusakan permanen pada saluran telurnya sehingga mengalami kegagalan produksi telur.

 

Pada ayam layer yang telah mulai bertelur, outbreak IB menyebabkan penurunan produksi telur yang bervariasi 5-10% selama 10-14 hari tergantung pada strain virus. Jika ayam mempunyai titer antibodi yang rendah dan terjadi infeksi sekunder, produksi telur dapat menurun sampai 50%. Sedangkan pada ayam dengan titer antibodi yang tinggi, gejala yang timbul berupa kerusakan/abnormalitas dari kerabang telur dan albumen yang cair dengan produksi telur yang normal. Jika produksi telur turun akibat IB, selalu akan terjadi abnormalitas dari kerabang dan kualitas albumen. Kondisi ini terus terlihat beberapa minggu bahkan beberapa bulan setelah produksi kembali normal.

 

Beberapa strain virus IB dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal berupa nephritis interstitial, sehingga terjadi wet dropping dengan feses yang encer dan terdapat akumulasi asam urat. Ginjal menjadi pucat, belangbelang, dan membengkak 2-3 kali. Akibatnya kematian dapat meningkat sampai 60% pada ayam muda. Diagnosa awal tentunya berdasarkan gejala klinis berupa gangguan respirasi dan penurunan produksi dan kualitas telur, dan pada bedah bangkai ditemukan lesi pada alat pernapasan, ginjal serta alat reproduksi. Selanjutnya untuk membedakan dengan penyakit respirasi lain, baik itu ND, Coryza, maupun ILT, dapat dilakukan uji serologis (ELISA, VN, dan HI) serta isolasi dan identifikasi virus.

 

Penyakit IB tidak dapat diobati, namun antibiotik dapat diberikan untuk mengontrol infeksi sekunder sehingga kerugian dan kematian dapat dikurangi. Sebagai langkah pencegahan Lakukan vaksinasi pada ayam petelur dan breeder, baik vaksin aktif maupun inaktif untuk mencegah kematian pada ayam muda dan juga untuk mencegah penurunan produksi telur. Sedangkan pada broiler, vaksinasi perlu dilakukan apabila virus di lapangan sudah terbukti mengancam. Jika memungkinkan, gunakan vaksin yang sesuai dengan serotype yang terbukti ada di lapangan. Ada beberapa merk vaksin IB yang beredar di Indonesia, baik live maupun killed dengan kandungan serotype yang beragam. Untuk vaksin live, serotype yang digunakan dan sudah beredar di pasaran adalah Massachussets dan Connecticut, sedangkan untuk vaksin killed yang umum digunakan adalah Massachussetts.