Cara mengatasi amoniak pada peternakan | Bahaya dan penyebab Amoniak

Tidak dapat dipungkiri bahawa dunia perunggasan berkembang sangat pesat dan cukup membantu pemerintah dalam menyediakan sumber protein hewani yang baik bagi masyarakat. Banyak pihak sudah terjun dalam usaha perunggasan ini di segala sektornya dengan berbagai skala usaha, mulai yang kecil, menengah dan raksasa. Akan tetapi, di berbagai sektor tersebut ada permasalahan yang terkadang dianggap ‘remeh’ namun dapat menimbulkan masalah yang cukup kompleks karena dapat menggangu kondisi kesehatan unggas, pengelola, maupun lingkungan sekitar. Permasalahan yang dimaksud tersebut adalah masalah pencemaran Amoniak.

cara menagatsi amoniakBau kotoran ayam yang mengandung amoniak dan gas lainnya, tentunya berdampak negatif bagi kesehatan manusia disekitar peternakan selain berdampak negatif juga pada ternak yang menyebabkan turunnya produktifitas. Pengelolaan lingkungan yang kurang baik ini akan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak itu sendiri.

Pencemarn amoniak dapat menyebabkan terjadinya iritasi dan keracunan. Namun kepekaan setiap individu terhadap amoniak berbeda-beda. Pengaruh amoniak terhadap ayam dilaporkan pertama kali pada tahun 1950 di amerika yang menyatakan bahwa amoniak menyebabkan peningkatan iritasi mata atau keratokunjungtivitis pada industri peternakan broiler.

Kadar amoniak (ppm) Gejala/ pengaruh yang timbul
5 Kadar paling rendah dan tercium baunya
6 Mulai timbul iritasi pada mukosa mata dan saluran nafas
11 Penurunan produktivitas ayam
25 Kadar maksimum yang dapat ditolelir selama 8 jam
35 Kadar maksimum yang dapat ditolelir selama 10 jam
40 Mulai menyebabkan sakit kepala, mual, hilang nafsu makan pada manusia
50 Penuruna drastis produktivitas ayam dan terjadi pembengkakan bursa fabrisius

 

Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa kadar amoniak 10 ppm saja sudah dapat menurunkan ketahanan cilia paru-paru dam pada konsentrasi 20 ppm ayam akan menjadi peka terhadap virus New castle disease dan radang kantong udara. Pada tingkatan 50-70 persen ppm ayam sudah mulai menunjukan gejala penurunan nafsu makan, pertumbuhan terganggu, produksi telur tidak optimal bahkan

Amoniak adalah gas yang tidak berwarna, lebih ringan dari pada udara dan memiliki bau yang menusuk. Gas ini dapat dihasilkan antara lain dari pemecahan kotoran ayam secara bakterial dan bersifat toksik, selain itu juga mengandung hidrogen sulfida, karbondioksida dan methnane. Gas-gas yang menyebabkan bau yang terkandung dalam kotoran ayam pada saat penumpukan atau penyimpanan kotoran terjadi proses dekomposisi oleh aktivitas mikroorganisme membentuk gas amoniak, nitrat, nitrit dan gas sulfida. Kandungan  gas amoniak dalam kotoran ayam yang tinggi menunjukan kurang sempurnanya proses pencerenaan atau protein yang berlebihan dalam pakan ternak, sehingga tidak semua nitrogen terabsorbsi dengan sempurna sebagai asam amono tetapi dikeluarkan dalam kotoran.

Ada beberapa faktor yang memperngaruhi kadar dan akumulasi gas amoniak yaitu :

  1. Kelembapan
  2. Temperatur
  3. Kepadatan ternak dalam kandang
  4. Sirkulasi udara/ ventilasi
  5. Bentuk lantai
  6. Bahan alas kandang
  7. Dll

Pada umumnya temperatur tinggi akan mendorong kecepatan pemecahan kotoran ayam dan meningkatkan pembentukan gas amoniak. Sedangkan kelembapan kering atau rendah akan menghasilkan sebaliknya. Kotoran ayam yang menghasilkan amoniak berada di bagian bawah kandang, sekitar liter atau tumpukan di bawah kandang battery.

Kebutuhan pergantian udara untuk ayam adalah sekitar 1,5-1,6 x10 +4 m kubik/ detik untuk setiap kilogram pangkat 0,75 dari berat ayam. Apabila kecepatan angin kurang karena terhalang pepohonan, maka penggunaan kipas angin akan membantu memberikan udara segar pada ayam. Dianjurkan agar dalam kandang memiliki kandungan CO2 < 0,3% dan kelembapan udara berkisar 60-70%.

Untuk mengurangi dampak bau yang ditimbulkan dari usaha peternakan ayam dapat dilakukan denatn bebrapa cara antara lain memperbaiki ventilasi udara, memberikan imbuhan pakan (feed additif), pemberian ransum denagn asam amino berimbang serta perlakuan pada litter dengan pemberian ferro sulfat dan asam fosfat untuk mengubah pH agar pelepasan amoniak berkurang.

Bahan lain yang dapat mengurangi bau amoniak dalam kandangadalah penambahan kapur sebanyak 1-3 % pada kotoran ayam. Hal ini dapat mengurangi pelepasan gas amoniak dan H2S secara nyata.

Selain itu, Liquid Smoke yang telah terklorinasi (ZEROMON)  juga terbukti efektif dalam menghilangkan bau amoniak. Pengalaman dilapangan menunjukan hanya membutuhakn waktu sekitar 30 menit setelah penyemprotan bau amoniak langsung berkurang drastis. Penyemprotan ZEROMON yang berkala juga dapat mencegah timbulnya bau amoniak dan mencegah munculnya penyakit lain karena ZEROMON juga mempunyai penanan sebagai disinfektan yang mampu membunuh mikroorganisme penyebab penyakit.