PUYUH SALING PATUK DAN PATUK TELUR | PENYEBAB DAN CARA MENAGTASINYA

oleh :

Kunta Adnan Sahiman

 

Kebiasaan saling patuk atau puyuh yang mematuk telurnya sendiri dalam dunia peternakan disebut sebagai kanibalisme. Umumnya puyuh mematuk punggung atau anus puyuh yang lain sampai timbul luka bahakan tidak jarang menimbulkan kematian. Kanibalisme merupakan sifat mematuk sesama unggas yang dipelihara dalam satu koloni. Tingkat kematian akibat kanibalisme lebih banyak terjadi saat puyuh mulai bertelur (umur 6 minggu). Puyuh biasanya sering mematuk puyuh lain atau bahkan telurnya sendiri.

Secara umum kanibalisme disebabkan dua hal yaitu pengaruh dari sifat puyuh sendiri (genotip) dan pengaruh dari lingkungan (pakan, suhu, rangsangan puyuh lain). Sifat kanibal yang sudah ada pada puyuh akan timbul apabila faktor lingkungan mendukungnya, contohnya dengan ukuran paruh anak puyuh yang relatif kecil maka ransum yang paling cocok diberikan ialah ransum jenis mash (tepung), namun jika diberi jenis bentuk butiran atau crumble akan menyebabkan puyuh mengalami stres dan memicu timbulnya kanibalisme.

Puyuh kanibal juga dapat terangsang oleh warna merah darah. Apabila melihat puyuh lain yang terluka maka akan memicu untuk mematuk luka tersebut hingga parah. Defisiensi nutrisi seperti Ca dan vitamin D yang berperan penting dalam pembentukan kerabang telur bisa menyebabkan kerabang yang dihasilkan tipis dan lembek sehingga mudah retak serta akhirnya merangsang puyuh untuk mematuki telurnya.

Dari segi manajemen seperti kepadatan dan suhu tinggi, jumlah pakan dan air minum yang kurang, serta waktu pemberian pakan yang terlambat juga akan memicu kanibalisme pada puyuh. Jadi sebaiknya mengeliminir faktor-faktor tersebut seperti mengatur kepadatan kandang, memberikan ransum dan air minum sesuai kebutuhan nutrisi serta menyesuaikan kenyamanan puyuh terhadap lingkungan.

Cahaya berfungsi dalam proses penglihatan, merangsang siklus internal dan menstimulasi pelepasan hormon, baik hormon pertumbuhan maupun hormon reproduksi. Cahaya dapat mempengaruhi perilaku dan reproduksi unggas.Mengurangi intensitas cahaya dapat menjadikan tingkat kanibalisme rendah. Oleh karena itu, dalam upaya pengurangan intensitas cahaya yang mengenai mata puyuh juga dapat dibantu dengan pemasangan paranet di bagian arah datangnya cahaya. Hal inilah yang mendasari mengapa kasus kanibalisme umumnya terjadi pada kandang yang paling atas.

Program potong paruh pada awal pemeliharaan sebagai pilihan terakhir mengingat tindakan ini belum lazim dilakukan di kalangan peternak puyuh. Pemotongan ini dapat dilakukan pada puyuh umur 21-24 hari atau masa grower dengan pertimbangan mudah dipegang, sudah mengenal ransum dan air minum cukup lama. Pemotongan paruh kurang lebih 10% pada paruh bawah dan 8% pada paruh atas. Dengan teknik dan penanganan yang tepat, akan didapatkan paruh yang tumpul dan tidak tumbuh kembali.

Kualitas maupun kuantitas ransum harus diberikan sesuai dengan kebutuhan nutrisi tiap fase pemeliharaan puyuh. Anak puyuh umur 1-10 hari sebaiknya diberikan dalam bentuk mash agar mudah dimakan. Setelah berumur lebih dari sepuluh hari, anak puyuh dapat diberi pakan berbentuk butiran halus. Selain ransum, yang tak kalah penting diperhatikan yaitu air minum harus diberikan sesuai kebutuhan.

Untuk meminimalisis resiko kanibalisme, sebaiknya setiap hari puyuh diberikan asupan multivitamin lengkap yang juga mengandung anti stress seperti Improlin-S. Selain, meminimalisis resiko stress yang menjadi pemicu kanibal, Improlin-S juga menyediakan asam amino, vitmain, mineral, prebiotik yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh puyuh, meningkatkan produksi telur, memperbaiki kualitas telur, menurunkan FCR, serta  mengurangi bau amoniak pada kotoran puyuh.