Seiring dengan semakin tingginya permintaan masyarakat terhadap pemenuhan sumber protein maka permintaan terhadap telur pun semakin meningkat, baik itu telur ayam maupun telur itik/bebek. Oleh karena itu, dibutuhkan sistim pemeliharaan intensif yang dapat memaksimalkan produktifitas ternak sehingga mampu menghasilkan telur dalam jumlah yang banyak namun dengan biaya seminimal mungkin.

Sistem pemeliharaan itik di Indonesia umumnya dibedakan menjadi tiga pola, yaitu sistem ekstensif/tradisional, semi intensif dan intensif (Pingel, 2005). Sistem pemeliharaan tradisional dengan cara menggembakan itik di rawa atau sungai, mencari makan sendiri di sekitar rumah, sawah, selokan dan kolam, serta diberi pakan tambahan seadanya (Setioko, 1997; Alfiyati, 2008). Sistem semi intensif dan intensif, yakni dengan memberikan pakan secara teratur dalam kandang (Solihat et al., 2003), tanpa atau dengan disediakan kolam (Suwindra, 1989). Manajemen pemeliharaan itik secara intensif meliputi :

 

Seleksi bibit Bibit atau calon bibit

Itik yang berkualitas baik, tentunya perlu diseleksi atau dipilh yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • calon bibit/anak itik (DOD) Sehat, lincah, gesit, tidak cacat, mata bening, bercahaya, bulu tidak kusam, lembut dan halus, rongga bagian perut bila diraba terasa lembut dan halus, pusat kering, dan tidak omphalitis (radang pusar) serta kaki tampak kokoh. Bibit atau calon bibit itik yang berkualitas baik, tentunya perlu diseleksi atau dipilh yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
    1. Bobot kurang lebih 38-40 gram.
    2. Berbulu bagus dan kering.
    3. Kedua matanya terbuka/melek.
    4. Anak itik bergerak lincah.
    5. Pusarnya telah kering serta duburnya bersih.
    6. Tidak ada cacat pada kaki (pengkor).
  • itik dara siap bertelur Sehat, tidak cacat, mata bulat dan cerah, warna bulu seragam dan mengkilap, seperti berminyak, kloaka halus dan tidak keriput.
  • Calon induk petelur (layer) Sudah masak kelamin (umur 5-5,5 bulan), syarat lainnya sama halnya dengan itik dara siap bertelur, bentuk badan bulat dan bidang, perutnya lebar dan kenyal.
  • Calon pejantan Sehat dan tidak cacat, sudah berumur 12-15 bulan, kepala tidak terlalu besar, tetapi lebih besar daripada kepala itik betina, mata bulat dan cerah, bulu mengkilap seperti berminyak, bentuk badan memanjang dan dada lebih kokoh.

Perkandangan

Beternak itik secara terkurung (sistem intensif) banyak memiliki keuntungan dibandingkan dengan pemeliharaan tradisional maupun semi intensif. Keuntungan tersebut antara lain : lahan yang diperlukan tidak luas, dapat memelihara ternak dalam jumlah besar dengan pengawasan dan penanganan yang lebih mudah, tidak tergantung musim, produksi maksimal dan kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan untuk membuat kandang itik, antara lain:

  1. Pemilihan lokasi yang tepat. Pemilihan lokasi Lokasi yang baik dan memenuhi persyaratan untuk pembuatan kandang itik pedaging antara lain : Areal lahan atau tanahnya padat dan tidak berair atau becek dan Dekat dengan sumber air.
  2. Jauh dari kebisingan dan masyarakat
  3. Transportasi mudah dan dapat dijangkau,
  4. Bahan kandang kuat dan harganya murah. Bahan dan perlengkapan kandang Bahan kandang yang diperlukan dalam pembuatan kandang itik Alabio, tidak harus menggunakan bahan yang mahal, tetapi hendaknya disesuaikan dengan kemampuan peternak, murah, kuat dan mudah didapat. Perlengkapan kandang yang harus diperhatikan untuk kenyamanan ternak itik yang dipelihara, antara lain: alat pemanas indukan (brooder) pada anak itik yang baru menetas, tempat pakan dan minum yang higienis dan tempat bertelur, serta alat penerangan (listrik).
  5. Ketersedian air yang memadai.

 

Persyaratan kandang

kandang bebek itik terbuka tertutupAda beberapa persyaratan kandang sehat dan nyaman, antara lain; tinggi kandang dari tanah sampai ke atap antara 1,5-2 meter, kandang diberi sekat/petak dan dilengkapi dengan tempat umbaran. Kandang sebaiknya menghadap ke timur untuk memberikan sinar matahari masuk ke dalamnya, sehingga ruangan kandang menjadi terang. Syarat-syarat kandang yang baik adalah :

  1. Kandang harus dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi itik. Oleh karenanya, kandang dibuat dengan rancangan dan konstruksi yang kuat, sehingga itik tidak gelisah, tidak mudah stres dan dapat beristirahat dengan baik.
  2. Memiliki ventilasi udara yang baik agar kandang cukup mendapatkan sinar matahari dan udara segar, serta dilengkapi dengan saluran drainase.
  3. Sebaiknya kandang tidak terletak di lokasi yang sibuk dan gaduh, karena bisa membuat itik menjadi stres.
  4. Lantai kandang dirancang dengan baik agar dalam keadaan bersih dan kering.

 

Luas dan daya tampung kandang

Luas kandang harus disesuaikan dengan jumlah dan umur itik yang dipelihara. Patokan luas kandang yang dibutuhkan untuk 100 ekor dan tingkat kepadatan kandang, ditampilkan pada Tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Daya tampung atau luas lantai kandang untuk 100 ekor itik.

 

Tabel 2. kepdatan itik fase grower

 

Pakan dan cara menyusun pakan

Pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan beternak itik. Seperti dikemukakan Rohaeni dan Setioko (2006), bahwa biaya pakan untuk pemeliharaan itik Alabio berkisar antara 60-70% dari seluruh biaya produksi. Pakan yang berkualitas baik (cukup gizi dan bahannya murah), dapat diperoleh dengan cara memformulasikannya dan sesuai dengan perkembangan harga serta ketersediaan bahan pakan yang digunakan.

Mencampur pakan sendiri dengan menggunakan beberapa jenis bahan, baik bahan baku pakan nabati (dedak halus, sagu, jagung kuning, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dll.), maupun hewani (keong rawa, ikan kering, tepung ikan, kepala udang, cacing, dll.). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan pakan itik di antaranya :

  1. Bahan pakan harus selalu tersedia secara kontinyu, mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia dan harganya murah.
  2. Bahan pakan yang digunakan harus berkualitas, tidak rusak atau berjamur dan mengandung zat nutrien yang dibutuhkan serta tidak berbau dan mengandung racun.
  3. Pakan harus sesuai dengan jenis, umur itik dan tujuan pemeliharaan itik.

Kebutuhan zat nutrien pakan itik yang direkomendasikan, seperti tertera pada Tabel 3. Kandungan nutrien beberapa bahan penyusun pakan itik ditampilkan pada Tabel 4.

Berdasarkan informasi kandungan zat nutrien pakan di atas, dapat disusun beberapa alternatif formula pakan yang memenuhi standar kebutuhan itik. Beberapa contoh pakan alternatif yang dapat diberikan pada itik, sebagai berikut:

 

 

Pakan anak itik (starter) :

  1. Umur 1 – 2 minggu, diberikan 6 gram dedak halus ditambah 6 gram jagung giling ditambah 3 gram konsentrat tepung ikan.
  2. Umur 3 – 6 minggu, terdiri atas 20 gram konsentrat atau 30 gram tepung bekicot atau ikan kering.

Pakan itik dara (grower) :

  1. Umur 6 – 8 minggu, diberikan 30 gram dedak + 30 gram jagung kuning giling + 15 gram konsentrat atau 45 gram bekicot atau ikan kering.
  2. Umur 9 – 12 minggu, diberikan 70 gram dedak halus + 70 gram jagung kuning giling + 35 gram konsentrat atau 105 gram bekicot atau ikan kering.

Pakan itik dewasa (layer) :

Beberapa contoh formulasi pakan itik dewasa dengan berbagai susunan atau komposisi bahan pakan untuk 100 kg pakan, seperti tertera pada Tabel 5.

Cara pemberian pakan

Semakin meningkatnya skala pemeliharaan itik, dituntut untuk lebih mengetahui secara mendalam tentang pengetahuan dan keterampilan dalam penyusunan pakan dan cara pemberiannya. Pembuatan atau penyusunan pakan diperlukan beberapa pengetahuan tentang bahan pakan (kandungan zat nutrien, adanya faktor pembatas (anti nutrisi) dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kualitas bahan pakan, kebutuhan zat nutrien sesuai dengan umur fisiologis atau tingkat produksi, teknik menghitung dan penyusunan pakan (Sinurat, 1999). Beberapa cara pemberian pakan untuk itik, digolongkan menjadi lima cara, yaitu: cara gembala, mash kering, mash basah, campuran pakan sendiri dan pellet.

Tabel 3. Rekomendasi kebutuhan zat nutrien itik.

 

Tabel 4. Kandungan nutrien beberapa jenis bahan pakan

 

Pemberian pakan untuk itik rontok bulu (molting)

Periode bertelur itik dibatasi oleh masa rontok bulu (molting) dan biasanya satu periode bertelur selama 6 – 7 bulan, sementara rontok bulu berlangsung selama 2-3 bulan dan satu bulan sebagai istirahat bertelur. Pada masa tersebut produksi telur menurun bahkan tidak berproduksi sama sekali, sementara konsumsi pakannya lebih banyak, sehingga untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya itik diberi pakan yang murah (eceng gondok, dedak atau padi yang hampa). Setelah dua minggu pasca rontok bulu baru itik diberi pakan normal dengan pakan yang berkualitas. Selain itu, untuk mempercepat rontok bulu, itik sebaiknya diberi pakan yang komposisinya lebih banyak ikan asinnya. Pada Tabel 6 di bawah ini diilustrasikan jumlah pakan yang diberikan pada masa itik rontok bulu/ luruh.

Tabel 5. Bebrapa Contoh Formulasi Pakan Itik Dewasa

Tabel 6. Jumlah Pakan yang Diberikan untuk Itik Rontok Bulu (100 ekor/hari).

Rontok bulu adalah proses lepasnya bulu-bulu secara alami pada unggas betina dewasa selama masa produksi telur, sebagai akibat terdorong oleh tumbuhnya bulu baru. Terjadinya rontok bulu merupakan waktu istirahat bagi ternak unggas dalam menghasilkan telur dan sekaligus melakukan regenerasi pada jaringan saluran reproduksi atau oviduk (Beyer 1998).

Kejadian rontok bulu yang bersifat alami pada unggas ini membuat para peternak berupaya membuat cara agar ternak peliharaannya mengalami rontok bulu secara serempak atau forced molting yang biasanya dilakukan dengan pengambilan pakan dari kandang atau feed withdrawal yaitu memuasakan ternak dengan hanya diberi air minum atau pemberian pakan dengan jumlah yang sangat terbatas dan kualitas rendah (Setioko 2005). Kegiatan forced molting banyak ditentang oleh para pencinta binatang, karena termasuk kegiatan penyiksaan yang merupakan pelanggaran terhadap animal welfare. Hal ini memerlukan upaya dari bidang ilmu lain untuk mengatasi rontok bulu, Salah satunya dari ilmu genetika yang akan memberikan dampak yang lebih permanen.

Setioko (2005) menyatakan bahwa rontok bulu dapat dibagi dua yaitu rontok bulu kecil, apabila bulu badan rontok dan rontok bulu besar, yaitu bila bulu sayap yang rontok. Sebelum rontok bulu besar, biasanya itik akan mengalami rontok bulu kecil terlebih dahulu atau terjadi secara bersamaan. Kadang-kadang, itik langsung mengalami rontok bulu besar tanpa harus melalui rontok bulu kecil. Tanda spesifik pada itik yang akan mengalami rontok bulu yaitu dengan melihat bulu sayap sekunder nomor 12, 13 dan 14, yang akan rontok terlebih dahulu sebelum bulu sayap yang lain.

Kejadian rontok bulu selalu terjadi pada periode berhenti bertelur (Susanti et al. 2012b). Hal ini mungkin sebagai akibat dari mulai mengecilnya organ saluran reproduksi, sehingga tidak ada telur yang dihasilkan (Berry 2003; Park et al. 2004). Tanda-tanda lain yang perlu mendapat perhatian pada itik yang akan mengalami rontok bulu yaitu menurunnya produksi telur. Apabila terjadi penurunan produksi yang drastis, biasanya sampai 20-30%, itik tersebut akan segera rontok bulunya (Setioko 2005). Hal ini terjadi karena pada saat rontok bulu, ovarium unggas mengalami pengecilan yang pada akhirnya akan menyebabkan produksi telur berhenti secara otomatis.

Salah satu faktor pemicu mengecilnya organ saluran reproduksi unggas sehingga produksi telur menurun atau bahkan berhenti bertelur adalah stres (Webster 2000; Duncan 2001). Akibat dari stres tersebut, maka produksi telur akan berhenti, kemudian terjadilah rontok bulu. Mekanisme kejadian stres dengan berhenti bertelur, itik hanya sedikit mengkonsumsi pakan, sehingga bobot badannya berkurang, termasuk menyusutnya jaringan otot dan jaringan lemak. Hal ini menyebabkan kurangnya suplai lemak ke hati sebagai salah satu depot lemak, sehingga ukuran hati menjadi kecil seperti itik-itik dara yang belum bertelur. Penyusutan ukuran hati berdampak pada inaktif ovarium. Penyusutan ovarium menyebabkan tidak ada telur yang diproduksi atau berhenti bertelur dan tidak lama setelah berhenti bertelur, maka rontok bulu terjadi.

Berdasarkan uraian di atas, kejadian rontok bulu dengan produksi telur merupakan urutan kejadian yang dikontrol oleh faktor lain yaitu hormon. Pada proses berhentinya produksi telur terdapat perubahan kerja hormon-hormon reproduksi. Hormon prolaktin yang bekerja untuk pembentukan kerabang telur, pada masa produksi, akan beralih untuk pertumbuhan bulu pada saat berhenti bertelur. Tumbuhnya bulu-bulu baru akan mendorong bulu-bulu lama lepas yang disebut rontok bulu .

 

bersambung –> KLIK INI >>PEMELIHARAAN ITIK SECARA INTENSIF (BAGIAN KEDUA)<<