Cara mengatasi Coryza Pada Ayam Pedaging dan Ayam Petelur

Cara mengatasi Coryza Pada Ayam Pedaging dan Ayam Petelur — Infeksius Coryza merupakan salah satu penyakit yang menjadi ancaman pada peternakan unggas di Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit respirasi akut ataupun kronis yang disebabkan oleh Avibacterium paragallinarum atau yang dulu dikenal dengan nama Haemophilus paragallinarum. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan bagian atas dan menyebabkan kebengkakan pada sinus, konjungtivitis, leleran pada oculonasal dan edema yang secara umum menyerang seluruh tipe unggas, terutama pada ayam layer periode grower atau pada saat puncak produksi dan dapat juga terjadi pada ayam breeder dan broiler.

Avibacterium paragallinarum adalah bakteri penyebab coryza yang termasuk dalam bakteri Gram negatif, memiliki kapsul, dan mengalami kemunduran sel dalam waktu 48 – 60 jam. Bakteri Av. paragallinarum sebenarnya sangat rapuh bila berada di luar tubuh ayam. Akan tetapi bakteri ini dapat bertahan hidup beberapa hari di lingkungan luar yang lembap atau dingin (suhu 22 °C) dan tetap berada dalam sekresi ayam yang terinfeksi. Itulah alasan mengapa serangan coryza cukup tinggi terjadi pada musim hujan.

Di Indonesia ditemukan 3 serovar Avibacterium paragallinarum yaitu serovar A, B dan C. Transmisi penyakit ini terjadi melalui kontak langsung, aerosol, atau melalui konsumsi pakan dan air yang terkontaminasi. Masa inkubasi penyakit ini adalah 1-3 hari dengan durasi penyakit 14 hari pada individu yang terinfeksi. Semakin lambat penyebarannya durasi kejadian penyakit ini akan semakin panjang. Kehadiran infeksi pernapasan lain seperti Mycoplasma akan meningkatkan durasi dan tingkat keparahan pada ayam yang sakit yang akan berdampak pada pertumbuhan dan produksi.

coryza SNOT CRD AYAM

 

Penyakit Coryza merupakan penyakit dengan tingkat mortalitas (kematian) yang rendah tetapi tingkat morbiditas (kesakitan) tinggi. Antibiotik golongan sulfonamide, erythromycin, oxytetracyclin, neomycin, spectinomycin, novobiocin, dan lain-lain efektif dalam menekan gejala klinis. Akan tetapi meskipun pengobatan dengan antibiotik efektif, kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit ini lebih besar, diantaranya:

  1. Menurunkan performa. Pada ayam grower menyebabkan penurunan konsumsi pakan dan air yang akan berefek pada tidak tercapainya bobot badan ayam, kematangan seksual tertunda dan turunnya keseragaman yang akan berimbas pada tertundanya siklus produksi.
  2. Menurunkan produksi dan kualitas telur. Turunnya konsumsi pakan berakibat pada kurangnya supan nutrisi pada tubuh ayam, yang menyebabkan turunnya produksi dan kualitas telur. Penurunan produksi akibat infeksius coryza dapat mencapai 10-40% dari produksi aktual (Blackall, 2013)
  3. Ayam carrier (pembawa) Ayam yang sembuh dari penyakit ini akan menjadi carrier (pembawa), hal inilah yang menyebabkan sulitnya kontrol dan eradikasi bakteri Avibacterium paragallinarum karena mayoritas sistem peternakan ayam di Indonesia adalah multi ages, terutama pada peternakan layer. Selain itu, iklim Indonesia yang bertipe tropis dengan kelembaban yang tinggi merupakan iklim yang sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri penyebab penyakit Coryza.
  4. Resistensi antibiotic. Dengan adanya ayam carrier akan menyebabkan penyakit terus berulang sehingga akan meningkatkan biaya pengobatan dan resiko resistensi antibiotik menjadi lebih tinggi. Salah satu penelitian di beberapa negara melaporkan bahwa Avibacterium paragallinarum resisten terhadap erythromycin, lincomycin dan neomycin (Chukiatsiri et al, 2011 dan Galaz et al, 2016).

 

Pengendalian Coryza

Di lapangan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan coryza dan agar kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu besar, di antaranya:

Suhu Ideal bagi ayam adalah 25 – 28 °C dengan kelembapan 60 – 70 %. Pada kondisi suhu tinggi, ayam akan stres dan kekebalan tubuhnya menurun. Sirkulasi yang baik juga penting karena sirkulasi yang jelek menyebabkan kelembapan tinggi sehingga gas amonia di dalam kandang sulit dikeluarkan akibatnya mengontaminasi saluran pernapasan ayam dan membuka kesempatan bibit penyakit lain untuk menginfeksi serta ikut menurunkan kekebalan tubuh ayam.

  • Vaksinasi coryza.

Pada ayam petelur umumnya dilakukan vaksinasi pada umur 42 -56 hari dan diulang umur 98 – 105 hari, namun jika kondisi sangat rawan maka dianjurkan untuk melakukan vaksinasi ulangan pada saat 5 – 6 minggu setelah vaksinasi pertama. Sedangkan pada ayam broiler vaksinasi dilakukan umur 4 harinamun jika kita mengetahui sejarah kejadian kasusu maka sebaiknya vaksinasi dilakukan paling lambat 3 – 4 minggu sebelum umur serangan. Dengan demikian saat serangan antibodi broiler sudah dalam kondisi ideal.

Banyak pro dan kontra terkait pelaksanaan vaksinasi coryza ini dkarenakan basis antigen vaksin coryza yaitu antigen bakteri memiliki tingkat proteksi tidak sebaik seperti vaksin viral. Selain itu, program vaksinasi tidak seintensif program vaksin ND (Newcastle Disease), IB (Infectious Bronchitis) atau AI (Avian influenza) yang sering dilakukan dan evaluasi serta pemantauan (monitoring) pasca vaksinasi terhadap vaskin viral base ini sering dilakukan. Akan tetapi menurut produsen vaksin, jika ayam yang divaksin namun tetap terserang coryza, maka akan mengalami penurunan bobot badan dan produksi telur namun tidak begitu hebat seperti yang tidak divaksin. Demikian juga dengan keparahan kasus, jika terjadi akan lebih ringan (misalnya rendahnya persentase ayam yang mengalami kebengkakan muka yang hebat).

  • Untuk mencegah penularan yang lebih luas, lakukan sanitasi air minum dan semprot kandang setiap hari dengan desinfektan. Kalo saya probadi cukup pakai disinfektan yang murah meriah seperti bayclin. Namun ynag perlu diperhatikan juga adalah pergantian/ rolling disinfektan agar kuman tidak kebal terhadap disinfektan tertentu. Perlu diketahui bahwa kontaminasi air, pakan, kandang, dan peralatan dari leleran cairan hidung ayam penderita coryza sangat potensial menjadi sumber penular penyakit.
  • Perlu dilakukan pemberian antibiotik selama 3 hari dengan tentunya yang paling penting adalah penyemprotan CERDEX selama 2 hari berturut-turut. Dengan demikian kasus tidak akan merambat, ayam yang sehat tetap sehat dan ayam yang sakit bisa segera sembuh. Pemberian antibiotik dan penyemprotan CERDEX ini sebaiknya segera dilakukan jika sudah mulai terdengar suara ngorok/ cekrek (pada malam hari umumnya). Namun biasanya saran saya ke peternak, jika kasusnya belum terlalu parah, cukup lakukan penyemprotan CERDEX saja, tentunya karena alasan efektifitas dan alasan ekonomis.
  • Umur ayam dalam satu lokasi farm diharapkan tidak terlalu bervariasi. Adanya variasi umur ayam akan memberikan kesempatan kepada agen penyebab coryza untuk terus bercokol di lokasi farm tersebut.

Jika Artikel ini bermanfaat, Mohon di Share sebanyak-banyaknya agar banyak orang juga dapat merasakan manfaatnya. Terima kasih…