PERAN UREA DALAM PENINGKATAN NILAI NUTRISI

Jika Anda Belum membaca Artikel Sebelumnya, Part I silahkan klik >>INI<<

Kualitas pakan hijauan yang rendah ditandai dengan tingginya kandungan lignoselulosa dan rendahnya kadar nitrogen (Walker and Kohler, 1981; Varner and Lin 1989). Sebagai akibatnya, pakan tersebut menjadi sedikit dicerna, rendahnya palatabilitas dan pemanfaatan unsur hara yang jelek (Reddy and Reddy 1986, Sengar et al., 1999; Sallam, 2005), sehingga sering kali tidak dapat memenuhi persyaratan pemeliharaan ternak ruminansia (Bird, 1999; Chanjula  and Ngampongsai, 2008). Banyak penelitian tentang metode amoniasi yang telah dilakukan.Metode tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai nutrisi hijauan kualitas rendah ataupun limbah pertanian yang banyak ditemukan seperti jerami padi (Bata, 2008), limbah tanaman jagung (Yulistiani et al., 2012), jerami gandum (Schlegel et al., 2016), jerami barley (Migwi et al., 2011), limbah sorghum (Abdullahi et al., 2016) .

Sriskandarajah And Kellaway (1982), Wuliji and McManus (1988) dan Suksombat (2004) menyatakan bahwa metode terbaik untuk memperbaiki kecernaan dan asupan pakan asal limbah pertanian terutama yang banyak mengandung lignoselulosa adalah dengan perlakuan alkali. Efek alkali pada dinding sel tergantung pada hidrolisis komponen dinding sel seperti ikatan lignin dan sebagian polisakarida sehingga memungkinkan mikroorganisme dalam rumen untuk memecah selulosa dan hemiselulosa (Karunanandaa et al., 1995; McDonald et al., 2002).

Perlakuan alkali sendiri terdiri dari berbagai macam seperti pemberian kapur (Saadullah et al., 1981), potasium (Ahmed and Babiker, 2015), NaOH (Dass and Kundu, 1994; Mishra et al., 2004), dan urea atau amonia (Nair et al., 2004; Gunun et al., 2013).Salah satu perlakuan alkali yang paling sering digunakan untuk meningkatkan kualitas nutrisi hijauan yang rendah tersebut adalah dengan pemberian urea atau biasa disebut dengan metode amoniasi (Hussein et al., 1991; Fadel Elseed et al., 2003).Penambahan dengan urea paling umum digunakan untuk peningkatan nilai nutrisi pada pakan basal dengan kualitas rendah karena penanganannya sederhana, risiko rendah, mudah didapat dan harganya murah (Caneque et al., 1998; Yin et al., 2010; Ahmed and Babiker, 2015).

Wanapat et al. (2013) menunjukkan bahwa perlakuan jerami padi dengan menggunakan kombinasi 2% Ureakapur atau 3% urea tunggal mampu meningkatkan asupan bahan kering, kecernaan nutrien, ekologi rumen dan produksi susu pada sapi perah Holstein crossbred. Khampa et al. (2006) menyatakan bahwa kombinasi konsentrat yang mengandung cacahan singkong (cassava) (DM 75%) dengan urea 4% dan ditambah dengan sodium Dlmalate 20 g/hari mampu meningkatkan ekologi rumen dan sintesis protein mikroba dalam rumen sapi Friesian Holstein crossbred laktasi pertama. Hasil penelitian Hastuti et al. (2011) menunjukkan bahwa tongkol jagung yang diberi perlakuan amoniasi yang dilanjutkan dengan fermentasi (amofer) selama 2 minggu mampu meningkatkan kadar protein kasar, kadar abu, serta menurunkan kadar serat kasar. Sedangkan hasil penelitian Manurung and Zulbardi (1996) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan jerami padi dengan 1,5% urea dan 3% tetes memberikan hasil yang memuaskan pada peningkatan nilai nutrisinya. Kombinasi tersebut mampu meningkatkan kadar protein kasar menjadi 11% dan menurunkan kadar silika menjadi 11,97%. Sedangkan penelitian Woyengo et al. (2004) pada domba Red Maasai dengan fistula rumen menunjukkan bahwa penambahan urea dan bungkil biji kapas pada limbah tanaman jagung mampu meningkatkan kadar protein kasar dan menurunkan kandungan NDF. Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering, bahan organik, dan kadar protein kasar mengalami peningkatan.

Perlakuan amoniasi dengan menggunakan urea dan fermentasi dengan bakteri selulolitik Acetobacter liquefaciens pada jerami padi dapat meningkatkan kenaikan berat badan harian dan menurunkan angka konversi pakan namun demikian tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering pakan domba lokal jantan (Soepranianondo, et al., 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Khattab et al. (2013) terhadap domba Barki dengan konsentrat azzawi yang diberi urea dan pakan basal Trifolium alexandrinum dengan kandungan 10 dan 15 gram/kg konsentrat azzawi menunjukkan adanya peningkatan kecernaan bahan kering, bahan organik, dan protein kasar. Hasil penelitian AlBusadah (2008) menunjukkan bahwa kambing Ardi betina menyusui yang diberi pakan jerami gandum dengan penambahan urea melalui proses amoniasi mampu meningkatkan persentase lemak, solid nonfat, kasein dan penurunan pH susu. Dengan demikian, secara umum pemberian pakan tersebut mampu meningkatkan kualitas susu kambing dalam penelitian. Namun hasil penelitian oleh AlShami (2008) pada domba Awassi yang diberi pakan jerami gandum dengan penambahan urea melalui proses amoniasi tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada aktivitas mikroba, konsentrasi mikroba dan  pH dalam rumen.  Menurut Jabbar et al. (2009) amoniasi jerami gandum dengan metode yang sederhana dan sangat murah hanya sedikit meningkatkan nilai nutrisi, namun dapat memberikan efisiensi tenaga, biaya dan waktu untuk peternak.Analisis ekonomi menunjukkan bahwa metode sederhana tersebut mampu menekan biaya sampai sebesar 45%. Dari semua metode amoniasi dengan urea, yang perlu mendapatkan perhatian adalah penyediaan N dan pemenuhan energi yang selaras ke mikroba rumen harus dijadikan pertimbangan utama untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan N bila diet basal adalah limbah pertanian yang diberi perlakuan dengan  amoniasi urea (Wu et al., 2005).

Salah satu metode untuk memperbaiki dan atau meningkatkan penggunaan bahan pakan berkualitas rendah oleh ruminansia termasuk suplementasi nitrogen dan mineral yang dapat melewati rumen adalah berupa formulasi pembuatan urea molasses multinutrien/mineral blok (UMMB) (Bheekhee et al., 1999; Togtokhbayar and Gendaram, 2004; Mohammed et al., 2007). Menurut Adugna et al.  (2000), Anonimusb (2007),  dan Tekeba et al. (2012) urea molasses mineral blok ataupun urea molasses multinutrien blok merupakan suplemen yang sangat baik untuk meningkatkan nilai nutrisi terutama protein dan energi pada ruminansia. Lebih lanjut, UMMB juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan intake pakan serta pertumbuhan mikroba rumen yang diberi pakan berkualitas rendah. Namun demikian, peran urea untuk peningkatan nilai nutrisi pakan basal pada ruminansia juga dapat dilakukan dengan melalui pemberian urea molasses blok (Isa and Dipo, 2014; Nyako et al., 2015) maupun urea mineral blok tanpa penambahan molasses (Hadjipanayiotou et al., 1993; Wu et al., 2005). Menurut Preston (1986) dan Sansoucy and Hassoun (2007), penggunaan blok urea/molases adalah cara mudah untuk menghindari asupan urea yang berlebihan, dan akan memberikan pasokan amoniaN secara terusmenerus secara aman. Hasil penelitian Wu et al. (2005) menunjukkan bahwa urea mineral blok tanpa penambahan molasses mampu memperbaiki serta meningkatkan kecernaan serat dalam rumen domba yang diberi pakan dengan kualitas rendah. Namun demikian, dalam penelitian tersebut tidak dijelaskan palatabilitas dari urea mineral blok tanpa pemberian molasses. Muralidharan et al. (2016) meneliti efek suplementasi konsentrat dan urea molasses mineral blok selama 5 bulan terhadap average daily gain (ADG) 40 ekor domba Mecheri lepas sapih yang merumput di padangan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa suplementasi urea molasses mineral blok meningkatkan ADG domba Mecheri secara nyata jika dibandingkan dengan kelompok kontrol tanpa suplementasi. Hasil yang serupa juga ditunjukkan pada penelitian oleh hatungimana and Ndolisha (2015) yang memberikan urea molasses blok pada domba Merino yang diberi pakan basal kombinasi hijauan berupa Penisetum purpuerum, Leucaena leucocephala dan Caliandra carothryr. Penambahan urea molasses blok dalam penelitian tersebut mampu meningkatkan berat badan dan rasio konversi pakan secara signifikan. Penelitian pada sapi jantan dengan pakan basal rumput yang diberi suplemen urea molasses mineral blok selama 90 hari juga menunjukkan kenaikan bobot yang signifikan jika dibandingkan dengan kontrol tanpa suplemen urea molasses mineral blok. Kelompok  perlakuan dengan urea molasses mineral blok mengalami kenaikan rata rata sebesar   31,17 ± 0,76 kg, sedangkan tanpa perlakuan 13,00 ± 2,79 kg (Kerketta et al., 2017).

Namun demikian, hasil beberapa penelitian terhadap manfaat urea tidak menemukan adanya pengaruh peningkatan nilai nutrisi pada penggunaannya sebagai suplemen. Laporan hasil penelitian oleh Polan et al. (1976) dan Kertz (2010) menunjukkan adanya penurunan dry matter intake (DMI) secara langsung pada sapi yang diberi tambahan urea. Lebih lanjut Broderick et al. (1993) dalam penelitiannya menemukan terjadinya  penurunan DMI pada sapi dengan pakan basal alfalfa dan silase jagung yang diberi urea 1,63%. Menurut Bartley et al.(1976), DMI cenderung mengalami penurunan jika urea diberikan bersamaan dengan sumber energi mudah terfermentasi. Penelitian dengan menggunakan slow release urea (SRU) 0,81,2% DMI yang dicampur dengan pakan basal silase jagung tidak berpengaruh terhadap ADG dan DMI. Akan tetapi bila konsentrasi SRU diturunkan menjadi  0,4% atau ditingkatkan menjadi 1,6% akan mengakibatkan penurunan ADG tanpa terjadinya perubahan DMI (TaylorEdwards et al., 2014).

Dengan demikian, suplementasi urea untuk peningkatan nilai nutrisi dalam pakan memerlukan beberapa pertimbangan yang matang agar supaya tidak muncul dampak negatif yang akan merugikan ternak. Pertimbangan yang paling masuk akal pada pemberian suplementasi urea adalah jika ternak ruminansia hanya mengonsumsi pakan basal berupa hijauan ataupun limbah pertanian yang memiliki nilai nutrisi dengan kualitas rendah.