Kita semua tahu bahwa ayam usia muda lebih rentan terkena penyakit karena tidak memimiliki daya tahan tubuh yang baik, perkembangan organ belum sempurna, bulu pun masih halus sehingga sangat rentan terhadap cuaca dingin. Itu benar, akan tetapi ada penyakit yang hanya menyerang pada ayam muda justru karena organ target serangan penyakit hanya ada pada ayam muda dan tidak dimiliki pada ayam dewasa. Lha, bukannya semakin dewasa organnya semakin lengkap?? Koq malah ini organnnya ada pada ayam muda namun hilang pada ayam dewasa? Oiya, tulisan ini diperuntukan untuk peternak pemula, kalo sudah senior dan expert kayaknya sudah pada paham, tapi kalo mau baca untuk penyegaran juga tifak masalah…

Gumboro begitulah nama yang tidak asing bagi masyarakat peternak ayam, sebuah nama penyakit yang disesuaikan dengan nama wilayah kejadian penyakit pertama kali. Kejadian penyakit ini pertama kali berada di daerah Gumboro, Delaware, USA yang ditemukan oleh Cosgrove pada tahun 1962. Kejadian penyakit ini meliputi seluruh negara di dunia, sedang untuk di Indonesia penyakit ini telah mewabah di pertengahan tahun 1991.

Gumboro atau juga disebut IBD (Infectious Bursal Disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus golongan Birnaviridae. Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang virusnya yah, tetapi yang mau saya tekankan bahwa kadang kita salah mendefinisikan penyakit antara bakteri, virus dan jamur sehingga penangannnya keliru. Nah virus penyebab Gumboro ini kalo saya bilang termasuk dalam virus yang Tangguh karena dia sangat tahan terhadap desinfektan ataupun kondisi lingkungan yang ekstrim. Dalam berbagai kondisi fisik dan agen kimiawi mereka tetap menunjukkan kondisi yang stabil. Itulah sebabnya jika kemudian masyarakat berkesimpulan bahwa virus ini tahan terhadap pelarut organik tetapi peka terhadap formalin dan kelompok iodofor. Virus dapat bertahan beberapa bulan dalam air, kotoran, atau sisa makanan. Jadi waspada yah, yang punya kasus gumboro pada periode sebelumnya harus total banget waktu bersih-bersih kendang biar kejadian tidak terulang lagi.

Gumboro merupakan penyakit yang cenderung akut, tingkat penularannya sangat tinggi,sekali kena…Juedaaar….!! Mati banyak… Pada kasus Gumboro ayam yang terinfeksi seringkali memperlihatkan adanya kebengkakan pada bursa fabrisius, serta adanya atropi (mengecil dari ukuran biasanya) pada organ tersebut, adanya beragam kerusakan ginjal, serta menimbulkan penekanan pada sistem ketahanan tubuh (immunosuppresive). Tingkat penularan penyakit ini sangat tinggi, bisa mencapai 100%, dengan tingkat kematian mencapai 20-30%. Masa inkubasi dari penyakit ini sangat pendek dan gejala yang paling awal akan tampak, 2-3 hari setelah infeksi terjadi.

Virus ini sangat mudah menular dan tahan dalam lingkungan di sekitar kandang ayam, sehingga dari ayam yang sebelumnya terserang maka virus ini dapat ditemukan pada leleran tubuh dan kotoran ayam yang terinfeksi.

Penularan virus ini dapat terjadi secara langsung melalui kontak dari ayam sakit dengan ayam yang peka, dapat pula penularan secara tidak langsung dengan melalui pakan atau minuman, kandang, perlengkapan ternak, alat trasportasi atau pekerja yang tercemar oleh virus IBD. Penularan dapat juga terjadi melalui udara yang tercemar oleh debu atau partikel yang mengandung virus IBD di dalam kandang ayam. Penularan biasanya terjadi secara oral (mulut, sebagai saluran pencernaan). Namun, terkadang bisa juga melalui selaput mata, sehingga mengakibatkan conjunctivitis bahkan berlanjut ke saluran pernapasan, dengan masa inkubasi selama 2-3 hari, penyakit ini sangat menular. Tanda klinik biasanya baru terlihat pada ayam yang lebih dari tiga minggu.

lokasi bursa fabrisius

Gejala klinik yang biasanya muncul adalah bentuk kejadiannya dapat dibagi dua, yaitu infeksi dini yang terjadi pada umur 1-21 hari, dan infeksi yang tertunda pada ayam umur 3 minggu ke atas (3-10 minggu). Di mana kasus ini lebih sering ditemukan pada ayam berumur lebih dari 10 minggu selama bursa fabricius masih berfungsi. Periode penunjukan gejala klinik, biasanya akan menunjukkan tingkat kematian yang tinggi, yaitu pada periode umur 3-6 minggu.

Kejadian IBD bisa diamati selama ayam masih menggunakan fungsi dari bursa fabricius, kira-kira sampai umur 16 mingguan lah. Pada ayam yang lebih muda dari 3 minggu, IBD kadangkala berbentuk subklinis, tapi tetap melukai bursa, yang membawa pada imunosupresi (penekanan pada kekebalan tubuh). Juga, akan mengakibatkan diare, nafsu makan menurun, depresi, rontoknya bulu, khususnya pada wilayah kepala dan leher. Sedang, infeksi IBD secara alamiah, biasanya dapat diamati dengan baik pada ayam. Gambaran yang mencolok dari proses penyakit ini adalah morbiditas yang mendadak dan tinggi, grafik kematian yang tajam .

Kejadian yang pertama pada suatu peternakan biasanya bersifat paling akut. Sedang, pada kejadian pemeliharaan DOC berikutnya bersifat kurang akut, selanjutnya kejadiannya kerap kali tidak terdeteksi. Pada sejumlah kasus, infeksi bersifat subklinis, misalnya jika terjadi infeksi virus IBD pada umur kurang dari tiga minggu, infeksi dengan virus gumboro asal lapangan yang bersifat tidak virulen atau infeksi yang dapat dinetralisasi oleh antibodi asal induk. Pada kasus yang sifat kurang akut atau infeksi subklinis biasanya tidak ditemukan adanya gejala tertentu, tetapi mungkin ditandai oleh gangguan pertumbuhan.

Pelaksanaan diagnosa dapat dilakukan dengan gejala klinik yang ada dan riwayat hidup kasus penyakit di tempat itu. Dengan demikian pengenalan Gumboro bentuk akut lebih mudah untuk dikenali, sehubungan dengan adanya kasus penyakit yang cepat, penularan yang tinggi, serta adanya perubahan makroskopik yang spesifik pada bursa fabricius, yang diperkuat oleh pemeriksaan mikroskopik.

Sifat lesi yang tampak pada bursa bersifat progresif, pada awalnya, bursa mengalami pembengkakan, udematus, dan tertutupi oleh lapisan eksudat yang bersifat seperti jel. Virus ini sangat berbahaya pada organ limfoid, sehingga beberapa organ itu mengalami luka terutama pada bursa di mana yang umum akan mengakibatkan bursitis.

radanag pada bursa fabrisiusNah, terkait pengobatan, sebagimana yang disebutkan diatas bahwa GUmboro atau IBD disebabkan oleh virus, maka sejatinya serangan gumboro atau IBD ini tidak dapat diobati dengan antibiotik, pengobatan yang dilakukan pada ayam yang terserang hanya bertujuan untuk mengatasi infeksi sekunder oleh karena adanya imunosupresi dari penyakit tersebut. Artinya, pengobatan yang kita lakukan bukan untuk membunuh virusnya namun hanya untuk mencegah jangan sampai masuk penyakit lain disaat daya tahan tubuh ayam sedang lemah. Jadi kondisi yang sudah parah jangan sampai tambah parah, Bahasa kerennya jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga pula. Jenis antibiotik yang diberikan sebaiknya sesui dengan jenis bakteri yang ditemukan pada pemeriksaan patologi dan mikrobiologi. Selain itu, penambahan suplemen vitamin, mineral, enzim, prebiotik (Improlin-G dan Immunose) pada air minum bisa membantu saat terjadinya kasus penyakit dengan meningkatkan imun serta mempercepat kesembuhan.

Pencegahan kasus ini bisa dilakukan dengan melakukan vaksinasi dengan live vaksin, sedang bila menjadi kejadian adalah dengan melakukan biosekuriti yang baik, serta menghindari kontak dengan yang terkena penyakit.