Mungkin Tidak ayam yang sudah diberi perlindungan vaksin bisa terkena penyakit? Ya tentu bisa saja, banyak faktor yang dapat menyebabkan vaksin bisa jebol dan salah satu sebab yang menurut pengalaman saya cukup sering membobol program vaksinasi adalah Cacingan, Iya Cacingan…,

Kita semua tau, bahwa cacing tidak bisa membunuh secara cepat dan masif layaknya penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Paling cuma ayam kurus, kurang nafsu makan, dan produktifitas turun. Akan tetapi, sikap kita yang memandang enteng serangan cacing ini bisa berujung fatal karena cacing-cacing tersebut selain menimbulkan kerugian yang sudah disebutkan sebelumnya juga bisa menjebol program vaksinasi yang sudah kita laksanakan dengan memakan biaya yang besar. Akhirnya jika program vaksinasi jebol maka masuklah teror penyakit viral yang merupakan momok terbesar dalam usaha peternakan, ayam bisa mati masal dalam hitungan hari. Padahal, untuk mengatasi cacing tidak membutuhkan dana yang terlalu besar dan proses yang tidak seribet vaksin. Istilahnya ‘gelo’ atau menyesal banget deh kalo ternyata gagal program vaksin karena cacingan. Nah, untuk memperjelas tentang masalah ‘percacingan’ ini , akan sedikit saya coba jelaskan, mungkin agak ilmiah sedikit tapi tidak masalah saya rasa, peternak sudah pada ngerti koq : )

Para Peternak sekalian, Cacing ini digolongkan dalam kelompok parasit yang disebut sebagai endoparasit karena hidup dalam tubuh induk semang (Selain endoparasit ada juga ektoparasi Contohnya Kutu dll). Pada dasaranya, cacing tidak menimbulkan sakit atau kematian pada unggas, tetapi sangat mengganggu produktivitas unggas. Gangguan tersebut berupa gangguan pertumbuhan maupun produksi telur. Meskipun secara umum diketahui bahwa ada tiga kelompok cacing, yakni cacing gilig (nematoda), cacing pipih atau pita (cestoda) dan cacing daun atau hati (trematoda) namun yang umumnya menimbulkan gangguan pada ayam adalah jenis cacing gilig dan pita.

Dalam siklus hidupnya, telur cacing keluar bersama kotoran ayam dan bercampur dengan litter. Ayam terinfestasi atau kemasukan cacing dalam bentuk telur atau larva melalui mulut. Telur atau larva ini berkembang hingga menjadi dewasa dalam tubuh tergantung siklus hidup masing-masing cacing. Cacing gilig Cacing jenis ini paling sering ditemukan pada ayam dan macamnya pun cukup banyak. Disebut gilig berdasarkan bentuknya yang bulat dan tidak bersegmen (tidak terbagi menjadi potongan-potongan tertentu).

Cacing mampu menimbulkan kerusakan pada organ atau jaringan tempat hidupnya. Organ yang menjadi tempat tinggal cacing antara lain seperti terlihat pada Tabel. Masing-masing tempat mempunyai jenis cacing yang berbeda lho…, jadi tidak sama antara cacing yang hidup di mata dengan di tenggorokan ata di usus atau di tempat lainnya. Nah, kita coba bahas deh sebagian dari jenis dan tempat hidupnya.

Pada Mata dan selaput mata merupakan tempat hidup Cacing Oxyspirura mansoni. Pada kasus ini Cacing dapat ditularkan melalui larvanya yang termakan oleh ayam. Ayam yang terinfeksi merasakan gatal gatal yang mengakibatkan matanya digaruk sehingga berwarna merah akibat radang mata yang berat.

Cacing Pada Mata Burung elang, Sama jenis Oxyxpirura, Ngeri khan ya…
 

Ini contoh Oxyxpirura Mansoni, Gambarnya Black and White tapi jelas yah…
 

Gangguan pernapasan pada ayam paling sering dijumpai akibat ayam terserang CRD atau snot. Ternyata gangguan pernapasan pun dapat diakibatkan oleh adanya cacing yang hidup dalam tenggorokan, bronchi atau bronchioli. Akibatnya ayam susah bernapas. Tidak jarang terdengar suara ngorok dan mulutnya menganga. Cacing pengganggu ini adalah Syngamus trachea yang disebut juga cacing merah atau cacing garpu. Kematian dapat terjadi karena tenggorokannya tersumbat oleh cacing.

Saluran pencernaan seperti tembolok tidak luput menjadi tempat hunian bagi cacing gilig yang bernama Capillaria annulata dan Capillaria concorta. Penularan terjadi melalui pakan, air minum atau material lain yang tercemar oleh telur cacing atau melalui perantaraan cacing tanah. Tembolok menjadi tebal disertai gangguan penyerapan pakan. Akibatnya ayam kurus dan produktivitasnya rendah.

Lambung kelenjar juga menjadi tempat hidup salah satu jenis cacing gilig yaitu Tetrameres. Cacing ini dapat dikelirukan dengan bintik darah karena bentuknya bulat seperti bola dan berwarna merah. Kecoa, belalang atau cacing tanah yang termakan oleh ayam menjadi perantara bagi penularan cacing ini.

Ascaridia galli merupakan cacing gilig yang banyak ditemukan pada ayam. Kerugian ekonomi akibat cacing ini cukup tinggi karena rusaknya dinding usus. Siklus hidup berlangsung kurang lebih 35 hari. Telur cacing keluar bersama kotoran ayam dan berkembang menjadi infektif, termakan oleh ayam lain. Setelah menetas telur berkembang menjadi larva yang “keluar-masuk menjelajah” ke dalam mukosa dinding usus. Akibatnya timbul luka dan perdarahan yang mengganggu proses pencernaan serta penyerapan nutrisi. Produktivitas ayam turun termasuk produksi telurnya jika menyerang ayam yang telah memasuki masa produksi telur. Cacing dewasa tinggal dalam rongga usus dan menyumbat usus. Lebih jauh lagi keberadaan cacing ini meningkatkan kadar asam urat dan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh sehingga mengundang infeksi lain seperti koksidiosis dan infectious bronchitis (IB). Kalau sudah begini, ayam pun bisa mati hanya gara-gara cacing.

 

Selain Ascaridia galli, cacing Heterakis juga hidup dalam usus namun lebih suka menempati usus buntu. Cacing ini berperan sebagai pembawa parasit yang lain yaitu Histomonas meleagridis yang menimbulkan black head disease.

Cacing pita Disebut cacing pita karena bentuknya yang pipih, panjang, memiliki segmen dan berwarna putih. Segmen cacing dinamakan proglotida dan kepalanya disebut skoleks. Proglotida tumbuh di belakang skoleks yang semakin ke belakang semakin tua umurnya. Cacing tidak memiliki saluran pencernaan dan memperoleh makanan dengan cara menghisap isi usus halus ayam. Proglotida yang penuh telur cacing dapat dilepaskan setiap harinya. Melalui hewan lain seperti siput, serangga, bekicot maupun cacing tanah, proglotida ditularkan kepada ayam lain yang memakannya. Cacing pita yang sering ditemukan pada ayam adalah Davainea proglottina dan Railletina spp.

Pengendalian dan pemberantasan cacing Selain mengundang masuknya koksidosis dan IB, adanya cacing yang menghuni tubuh ayam juga memudahkan serangan penyakit lain. Rusaknya sel-sel epitel saluran pencernaan menyebabkan penyakit viral seperti ND dan AI ikut menginfeksi, juga bakterial maupun jamur seperti Candida.

Pengendalian cacing tentu harus dilakukan dengan memberikan obat cacing yang sesuai dengan kasus yang terjadi. Sedangkan untuk pencegahan tentunya kita harus menerapkan biosecurity yang ketat termasuk pemberian Obat Cacing yang mempunyai spektrum luas atau obat cacning yang dapat membunuh hampir semua jenis cacing, kalo saya sih seringnya pakai yang mengandung Albendazole Cair.

Semoga Bermanfaat ya…